Muhammadiyah, Konteks Kelahiran dalam Sebuah Versi

Gerakan modernis di Indonesia mengkritik sifat sinkretis Islam di Indonesia dan menganjurkan reformisme Islam dan penghapusan unsur-unsur yang tidak Islami dalam tradisi. Gerakan ini juga bercita-cita untuk memasukkan modernitas ke dalam pendidikan Islam. Sejarahwan M.C. Ricklefs dalam karyanya A History of Modern Indonesia 1200-2004, menulis, dari kegiatan para reformis dan reaksi lawan-lawannya, struktur masyarakat Indonesia lebih ditandai atas dasar aliran komunal daripada kelas sosial.



Gerakan reformis misalnya terjadi di kawasan Minangkabau, Sumatera Barat, di mana para ulama memainkan peran penting dalam gerakan reformasi awal. Fred R. Von der Mehden dalam Two Worlds of Islam: Interaction Between Southeast Asia and the Middle East (1993), menyebutkan, ulama Minangkabau yang terkenal dan berpengaruh di Mekkah, Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi (1860–1916) telah memberikan kontribusi besar terhadap pelatihan reformis dan secara langsung bertanggung jawab mendidik banyak tokoh Muslim penting selama masa ini. Pada tahun 1906, Tahir bin Jalaluddin, seorang murid al-Minangkabawi, misalnya, telah menerbitkan al-Iman, surat kabar berbahasa Melayu di Singapura. Lima tahun kemudian terbit surat kabar al-Munir di Padang. Pada awal abad ke-20, sekolah modernis Muslim muncul di Sumatera Barat, seperti Adabiah (1909) dan Diniyah Putri (1911).

Makam KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta. (foto: internet)

Gerakan tersebut juga telah mencapai basis pendukungnya di Jawa. Di Yogyakarta, Ahmad Dahlan, yang bertemu Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi di Makkah, mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Ahmad Dahlan dan Ahmad Khatib hanya berbeda umur 8 tahun, Ahmad Khatib lahir 1860, sementara Dahlan 1868. Pendirian Muhammadiyah dengan bentuk organisasi modern ini, telah memelopori bentuk perkumpulan muslim saat itu. Muhammadiyah dengan cepat memperluas pengaruhnya hingga ke seluruh nusantara. Abdul Karim Amrullah (1879–1945), ayah Buya Hamka, yang berguru dengan al-Minangkabawi di Makkah, mendirikan cabang Muhammadiyah di Sumatera Barat pada 1925. Sepuluh tahun sebelumnya, 1915, Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul telah mendirikan Sumatera Thawalib.

Menyusul setelah Muhammadiyah, berdiri organisasi modernis lainnya termasuk Al-Irsyad Al-Islamiyah (1914) dan Persis (1923). Segera setelah itu, Nahdlatul Ulama (NU) yang bercorak Islam tradisional didirikan pada 1926 oleh Hasyim Asy’ari (1875–1947), juga seorang murid al-Minangkabawi. M.C. Ricklefs menyebut berdirinya NU merupakan reaksi atas meningkatnya gelombang reformis. Setelah itu, muncul juga Perti (1930) dan Nahdlatul Wathan (1953) di Lombok. Patut dicatat pula, pada awal abad ke-20, Sarekat Dagang Islam (1906) dikembangkan sebagai organisasi nasionalis massal pertama melawan kolonialisme dalam Serikat Islam (SI).

Dalam prosesnya, Islam memberi rasa identitas yang berkontribusi pada kulminasi nasionalisme Indonesia. Dalam situasi ini, kaum nasionalis Indonesia awal sangat ingin mencerminkan diri mereka sebagai bagian dari ummat (komunitas Islam di seluruh dunia) dan memiliki kepentingan dalam isu-isu Islam. Untuk alasan ini, kolonial Belanda melihat Islam sebagai ancaman potensial dan memperlakukan para peziarah dan siswa yang kembali dari Timur Tengah dengan kecurigaan tertentu.

Kecurigaan yang sama ditujukan pada Ahmad Dahlan ketika mendirikan Muhammadiyah pada 1912. (*)


sumber: dirangkum dari berbagai sumber

Bagikan:

Cari Berita

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*