ISIS, Metamorfosa Gerakan Multi Bidan

Hingga Desember 2007, kekuatan AQI-ISI terus melemah. Laporan jurnalis New York Times, Alissa J Rubin pada Desember 2007 berjudul “In a Force for Iraqi Calm, Seeds of Conflict“, menyebutkan, karena serangan AQI-ISI yang membabi buta, termasuk pada pemimpin Sunni Sheikh Abdul Sattar Abu Risha, kelompok Hamas di Iraq dan Brigade Revolusi 1920 serta kelompok-kelompok kecil lainnya di Irak, membuat perlawanan terhadap AQI-ISI kian besar. Melalui Majlis Inqadh al-Anbar yang banyak diikuti oleh penduduk lokal Irak, dewan ini membesar hingga memiliki pasukan yang diperkirakan 56.000-80.000 pasukan. Banyak dari mereka sebelumnya dilaporkan adalah pemberontak dan pendukung AQI. Disebutkan dalam laporan itu, mereka kemudian dipersenjatai dan dibiayai oleh AS untuk melawan Al-Qaeda di Iraq.

Namun, AQI semakin melemah. Pada 2008, ISI mengumumkan klaim mereka bahwa kelompok mereka adalah solusi krisis konflik di Irak. Namun rupanya, dalam kurun dua tahun, menurut laporan militer AS, melemahnya AQI itu di sisi lain telah menguatkan organisasi ISI secara keseluruhan. Militer AS menyebutkan, justru pada kurun waktu dua tahun itu telah banyak warga Irak yang ikut bergabung dengan ISI. Itu termasuk warga dari negara-negara lain.



Namun, dalam sebuah operasi militer AS pada April 2010, kedua pemimpin kelompok ini, Abdullah al-Rashid al-Baghdadi dan Abu Ayyub al-Masri, terbunuh. Kemudian, kelompok ini mendapat pemimpin baru bernama Abu Bakr al-Baghdadi pada 16 Mei 2010 hingga sekarang.

Abu Bakr al-Baghdadi, pimpinan ISIS saat ini. Pada 16 Desember 2016, pemerintah Amerika menjanjikan hadiah uang 25 Juta Dolar AS atas informasi untuk penangkapannya, hidup atau mati.

Lalu, pendiri dan pemimpin Al-Qaeda tewas pada 2 Mei 2011 oleh militer AS di Pakistan. Al-Baghdadi membalas serangan ini dengan mengklaim bertanggung jawab terhadap serangan militer di Hilla (100 km di Selatan Baghdad) pada 5 Mei 2011. Serangan ini menewaskan 24 polisi setempat dan melukai 72 orang. Pada 15 Agustus 2011, serangan bom bunuh diri ISI juga semakin tinggi di Mosul. Dilaporkan, setelah kematian Osama ibn Laden, ISIS telah melancarkan lebih dari 100 serangan di seluruh penjuru Irak .

Namanya kemudian semakin dikenal ketika pda 28 Agustus 2011 melancarkan aksi serangan bom bunuh diri di Masjid Umm al-Qura di Baghdad. Serangan ini membuat pakar hukum Sunni yang cukup terkenal Khalid al-Fahdawi, wafat.

Pada bulan itu juga, Agustus 2011, Abu Bakr al-Baghdadi telah mengirim anggotanya yang berpengalaman dalam perang gerilya untuk menyeberang perbatasan Syria. Dipimpin oleh Abu Muhammad al-Jawlani, mereka merekrut anggota baru di seluruh wilayah Syria. Pada Januari 2012, mereka mendirikan kelompok bernama Jabhat al-Nusra l’Ahl as-Sham yang lebih dikenal dengan nama “al-Nusra Front”.

Pada April 2013, ISI resmi berekspansi ke Syria ketika Abu Bakr al-Baghdadi mengumumkan bahwa ISI-lah yang mendirikan dan mendanai al-Nusra Front. Al-Baghdadi menggabungkan ISI dan al-Nusra menjadi al-Dawla al-Islamiya fi Iraq wa al-Sham atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS). Mereka juga disebut oleh media AS dan Eropa sebagai “Islamic State of Iraq and the Levant” (ISIL). Perubahan nama ini hanya istilah saja karena bahasa Arab menyebut wilayah Syiria sekarang sebagai “al-Sham”. Sementara yang dimaksud dengan “Levant” oleh media AS-Eropa adalah Syria yang luas. Pemerintah AS menyebut mereka secara resmi dengan sebutan ISIL.

Namun, Abu Muhammad al-Jawlani memprotes penggabungan al-Nusra dengan ISI. Pada Juni 2013, media Al-Jazeera melaporkan bahwa pemimpin al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri, mengirimkan surat kepada mereka berdua (Abu Bakar al-Baghdadi dan Abu Muhammad al-Jawlani) yang isinya menolak penggabungan tersebut.

Ayman al-Zawahiri bersama Osama bin Laden ketika diwawancara Hamid Mir pada November 2001 di Kabul, Afghanistan. Setelah tewasnya Osama, al-Qaeda kini dipimpin al-Zawahiri. (foto: Hamir Mir/wikipedia)

Pada bulan yang sama, al-Baghdadi merilis pesan bahwa dia menolak aturan Zawahiri dan penggabungan itu akan terus dijalankan. Pada Oktober 2013, Zawahiri memerintahkan al-Nusra untuk mengabaikan ISIS dan memposisikan al-Nusra sebagai komando utama gerakan di Syria. Pada Februari 2013, Al-Qaeda mengumumkan bahwa mereka tidak memiliki hubungan apapun dengan ISIS. Dengan demikian, di titik ini, pecahlah hubungan antara Al-Qaeda dan ISIS pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi.

Antara al-Nusra dan ISIS memiliki pertentangan tujuan di Syria. Misalnya, perjuangan al-Nusra bertujuan untuk menjatuhkan Presiden Syaria, Bashar Hafez al-Assad. Sementara, ISIS bertujuan untuk merubah seluruh wilayah Syria ada dalam kekuasaannya. Dalam prakteknya, ISIS digambarkan jauh lebih kejam dalam mendirikan negara Islam versi mereka.

Perbedaan lain, warga Syria lebih menganggap al-Nusra “lebih Syria” daripada ISIS yang mereka anggap sebagai “penjajah” dari negara lain. Padahal sebenarnya, baik al-Nusra dan ISIS juga mengandalkan pasukan asing dalam organisasinya. Tentara asing di Rusia misalnya tergabung dalam Jaish al-Muhajireen wal-Ansar (JMA). Namun, JMA pun terpecah ketika pemimpin militan dari Chechnya, Abu Omar al-Shihani bergabung dengan ISIS.

Meski demikian, konflik al-Nusra dan ISIS mengalami naik turun. Pada Mei 2014, pemimpin al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri memerintahkan al-Nusra untuk berhenti menyerang ISIS. Tapi, tidak semua yang mematuhinya. Sementara pada Juni 2014, cabang al-Nusra di al-Bukamal (sebuah kota di Syria) menyatakan diri bergabung dengan ISIS.

ISIS juga berkonflik dengan pemberontak Syria yang tergabung dalam kelompok al-Jabhat al-Islamiyyah (Islamic Front) dan al-Jaysh as-Suri al-Hurr atau Free Syrian Army (FSA). Pertempuran kedua kelompok ini melawan ISIS misalnya terpampang di Aleppo, Syria, pada Januari 2014.

Bagikan:

Cari di INDHIE

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Metamorfosa ISIS dalam Grafis – indhie
  2. Metamorfosa ISIS dalam Grafis – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*