Ahmad Baqi, Seribu Lagu dan Hawa Al-Quran

Ahmad Baqi. [foto: discogs.com - edit: nirwan]

AHMAD Baqi mempunyai patron dan akar musik padang pasir dari Mesir. Itu seperti diakui anaknya, Ahmad Syauqi Ahmad Baqi. Akar Mesir yang rupanya tidak mudah untuk dicerna oleh bahkan personil musik Ahmad Baqi sendiri.

Zubeiruddin, pemain keyobard Ahmad Baqi, mengaku masih susah untuk membawakan lagu Al Wathan (Negeri). “Musiknya asli diambil dari Mesir,” kata Zubeir.

Soal lirik, lagu-lagu Baqi kental memasukkan unsur religi, terutama ruh Islam. Simaklah lirik Selimut Putih yang fenomenal itu:

Bila Izrail datang memanggil
Jasad terbujur di pembaringan
Sekujur tubuh akan menggigil
Sekujur badan akan kedinginan



Tapi, kontemplasi yang dilakukannya bukan hanya dari segi pemahaman terhadap kandungan Islam. Optimisme disertai pengendalian diri juga digariskan dalam lagu-lagunya. Dengarlah dalam lagu Cita-cita yang dipopulerkan Hasmidar Darwis tahun 1970.

Yakinlah bila bulan telah sabit
Esok lusa pasti purnama…

* * * 

Tidak bisa dihitung berapa lagu yang sudah ditulis Baqi ketika mulai mencipta lagu di sekitar tahun 1940-an. Menurut anaknya, kurang lebih ada seribu lagu. Itu lagu yang jadi, lengkap dengan partitur dan syair-syairnya. Tapi, baru sekitar 100 lagu yang sudah direkam dan diedarkan.

“Lagunya panjang-panjang, bisa 15 menit satu lagu,” kata Ahmad Syauqi, anak Ahmad Baqi yang menyimpan harta warisan Ahmad Baqi itu. “Lagu-lagu itu adalah anugerah.”

Bagi lidah pop dan dangdut, umumnya lagu-lagu Baqi tidak gampang untuk dibawakan. “Cengkok atau dalam bahasa kita, greneknya, susah diikuti,” kata Syauqi lagi.

Syarat pertamanya, adalah menguasai “hawa”. Ini istilah yang diberikan Baqi merujuk nada-nada lagu Al-Quran. Lagu Baqi memang dipengaruhi kuat oleh nada-nada dalam membaca al-Quran, seperti bayati, siqa, raas, nahwan, hijaz, husaini, dan zakarha. “Memang syarat utamanya kita mesti menguasai nada-nada lagu al-Quran,” kata Sasmidar Effendi, vokalis El Surayya, yang hampir 30 tahun setia mengikuti orkes Ahmad Baqi.

Tapi, kalau sudah menguasai hawa itu, biasanya lagu-lagu Baqi mudah dipahami. “Biasanya satu hari sudah dapat,” kata Mahanum, seorang vokalis orkes Ahmad Baqi juga. “Biasanya seminggu sekali mendiang mendapat lagu baru, kita disuruh ke rumah dan langsung belagu.

Hawa ini berbeda dengan lagu-lagu dangdut maupun nasyid zaman sekarang. “Kalau seperti Raihan (grup nasyid modern), itu cenderung ke pop,” kata Mahanum sambil mencontohkan perbedaan dendang lagu Raihan dan Baqi.

Menurut Sasmidar, dalam berlatih lagu, Baqi merupakan orang yang keras. “Tidak bisa main-main. Kalau tidak pas, ‘kupingku sakit,’ katanya,” tutur Sasmidar menirukan cakap Baqi.

* * *

Ahmad Baqi dan istri, Dewiana Siregar.
[foto: FB Orkes Elsurayya Ahmad BaQi-Medan]
Riwayat merekam lagu-lagu Baqi sudah lama. Dimulai ketika akhir dekade 1960-an, lagu “Selimut Putih” direkam di atas piringan hitam di Malaysia, dan mulai diperdengarkan di Indonesia melalui Radio Republik Indonesia (RRI). Lagu itu langsung meledak, terutama di daerah ranah Melayu, seperti Sumatera Utara, pesisir Sumatra hingga ke seperti Malaysia.

Lagu itu keluaran formasi pertama dari Orkes Ahmad Baqi. Pelantunnya langsung terkenal, seperti Nur Aisiyah Jamil, M Nuh, dan M Thahir. Di tahun 1970-an, formasi sudah berubah yang berisi nama-nama Hasmidar Darwis, Atikah Rahman, M Thahir, dan Ruqiah Zein. Di formasi ini, melejit lagu seperti “Cita-cita”.

Formasi ini cepat berkurang. Kebanyakan, personilnya dilirik orang ketika sedang manggung. Seperti Ruqiah Zein yang mendapat jodoh ketika manggung di Malaysia dan Atika Rahman yang dipinang oleh mantan Ketua DPRD Sumut, H Abdul Wahab Dalimunthe. Hasmidar Darwis pun tak luput dipinang orang. (*)


Penulis: Nirwansyah Putra
Catatan:
1. Reportase ini dibuat pada Desember 2005. Diupload pertama di blog tukangngarang pada 2008 dengan judul Seribu Lagu Ahmad Baqi. Beberapa konten telah dimodifikasi, sebagian dikoreksi dan disesuaikan dengan blog Ahmad Syauqi Ahmad Baqi, anak Ahmad Baqi yaitu Ahmad Baqi El Surayya Indonesia.
2. Tulisan ini terdiri dari dua artikel: Ahmad Baqi, Seniman Besar Indonesia dari Medan, Sumatera Utara; dan Ahmad Baqi, Seribu Lagu dan Hawa Al-Quran.

Bagikan:

Cari Berita

1 Trackback / Pingback

  1. Ahmad Baqi, Seniman Besar Indonesia dari Medan, Sumatera Utara – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*