Ahmad Baqi, Seniman Besar Indonesia dari Medan, Sumatera Utara

Ahmad Baqi bukan seniman level biasa. Namanya tak hanya harum di ranah Melayu Asia Tenggara tapi juga membuai hingga ke Timur Tengah.

Baqi pernah mendapat gelar Profesor Honoris Causa di bidang musik dari Kerajaan Kelantan Malaysia tahun 1970. Gelar itu diberikan Datok H Mohammad Asri Bin H Muda, Menteri Besar Kelantan, setelah lagu Selimut Putih yang bercerita tentang kematian dan membuat merinding seantero pelosok ranah Melayu. Lagu itu sendiri sudah dicipta Baqi pada 18 juli 1968. Honoris Causa lainnya diberikan H. Bahrum Jamil, pendiri Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) kepada Baqi.

Malaysia memang terpincut dengan Baqi. Pada 1995, pemerintah Malaysia memberinya gelar Datuk yang diberi oleh Menteri Besar Sabah. Lalu, dua tahun sebelum wafat, ia diberi gelar ASDK (Ahli Setia Darjah Kota Kinabalu) oleh kerajaan Sabah Malaysia (1997). Kala itu, Baqi sudah berumur 75 tahun.



Di Brunei, Baqi ditawari untuk tinggal di sana. Fasilitas apa pun akan diberikan pemerintah Brunei bila Baqi mau menularkan ilmu dan berkreasi di negeri kaya minyak itu. Tawaran itu ditampik Baqi dengan halus kepada Awang Haji Tua, seorang pengurus Kerajaan Brunei yang datang kepadanya pada 1982. Baqi sendiri datang ke Brunei ketika Sultan Brunei, Hasanal Bolkiah sedang berulang tahun yang ke-37. “Lebih baik hujan batu di negeri daripada hujan emas di negeri orang,” kata Ahmad Baqi waktu itu.

Maestro musik padang pasir dunia asal Mesir, Ummi Kaltsum, pun mengetahui sosok Baqi. Penyanyi itu pernah meminta Baqi untuk mengajar musik padang pasir dan pindah ke Malaysia. Baqi juga menolak permintaan mandah itu.

Tapi Mesir tetap memperhatikan Baqi. Universitas Al Azhar Mesir memberinya hadiah berupa Ganun, alat musik petik khas Mesir yang mempunyai 78 senar. Ganun itu diserahkan Imam Besar Universitas Al-Azhar Mesir, periode 1958-1963, Prof Sheikh Mahmoud Shaltut, di kampus Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) dan sewaktu Baqi mengisi acara hiburan di gubernuran Sumut. Sheikh Shaltut sendiri diketahui pernah berkunjung ke Indonesia pada 1960.

Sheikh Mahmud Shaltut
[foto: wikipedia]
Baqi memang pernah ingin melanjut sekolah di Al-Azhar Mesir, namun perang dengan Jepang menjadi penghalang. Ganun Mesir itu dikuasai Ahmad Baqi hanya dalam waktu setahun. Itu di samping keahliannya memainkan dengan fasih alat musik lain seperti biola, gambus, dan akordion.

Baqi merupakan seniman sejati. Untuk total di musik, ia mengambil pensiun dini dari jabatan Kepala Perbekalan PLN tahun 1975, tempat ia bekerja sejak 1947. Ia kemudian menceburkan diri di pondok musik yang sudah didirikannya sejak tahun 1970. Dua tahun sebelumnya, 1968, ia merangkum banyak grup-grup musik dan orkes melayu Padang Pasir di Medan, seperti Al Wardah, Al Wathan, En Nasiim, Syauthun Niil, dan lain-lain, dalam sebuah organisasi El Qawaqib. Baqi sendiri mendirikan grup El-Surayya pada 1964.

Ironisnya, penghargaan yang diterima Baqi dari negeri sendiri, minim benar. Itu pun datangnya dari mendiang H Raja Inal Siregar, mantan gubernur Sumut. Gubernur yang dikenal agamis itu memberinya penghargaan Pembina Seni dan Budaya Sumatera Utara sebagai Komponis pada 5 April 1998. Setelah itu, pada tahun 2000 atau setahun setelah Baqi wafat, dilaksanakan Malam Kenangan Ahmad Baqi di Hotel Garuda Plaza Medan. Konon, di malam itu pemerintah akan menyelenggarakan malam kenangan untuk Ahmad Baqi setiap tahunnya. Tapi, ternyata tidak.

Agaknya, Baqi semasih hidup seperti sudah sadar tentang nasib seniman. “Kami ini seniman, setelah di pusara baru dihargai. Kalau tidak anak aku, cucu aku yang menikmati,” kata Syauqi mengucapkan kalimat ayahnya. (*)


Penulis: Nirwansyah Putra
Catatan:
1. Reportase ini dibuat pada Desember 2005. Diupload pertama di blog tukangngarang pada 2008 dengan judul Seribu Lagu Ahmad Baqi. Beberapa konten telah dimodifikasi, sebagian dikoreksi dan disesuaikan dengan blog Ahmad Syauqi Ahmad Baqi, anak Ahmad Baqi yaitu Ahmad Baqi El Surayya Indonesia.
2. Tulisan ini terdiri dari dua artikel: Ahmad Baqi, Seniman Besar Indonesia Asal Sumatera Utara; dan Seribu Lagu Ahmad Baqi dan Hawa Al-Quran.

Bagikan:

Cari di INDHIE

1 Trackback / Pingback

  1. Ahmad Baqi, Seribu Lagu dan Hawa AlQuran – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*