Abdul Haris Nasution, Gerilya Menyelamatkan Indonesia


Soeharto: Duet, Rival, Lalu Jenderal Besar


Gerakan 30-S/PKI dan peristiwa sesudahnya jelas menjadi sebab utama kejatuhan Sukarno. Nasution dinilai begitu kehilangan putrinya, Ade Irma Suryani Nasution. Bintang Nasution memang bukannya langsung padam. Soeharto mulanya meletakkan posisi Nasution sebagai penasehat baik secara militer maupun politik. Nasution kemudian menjadi Ketua Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), yang menolak pertanggungjawaban Sukarno (Nawaksara dan Pelengkap Nawaksara) seluruhnya dan mencabut mandat Sukarno sebagai Presiden. Nasution pulalah yang mengangkat Soeharto sebagai Pejabat Presiden RI pada 12 Maret 1967 dan Presiden definitif pada 27 Maret 1968.

Nasution dan Soeharto, toh, bukan sekali ini berhubungan. Saat Soeharto dituduh menyelewengkan barter gula-beras pada 1959, karir militernya sempat diduga akan habis. Namun, Nasution “menyelamatkan” karir Soeharto. Soeharto memang tak lagi menjabat Panglima Tentara Teritorial (T-T) IV Diponegoro. Dia dibebastugaskan dan disekolahkan di Seskoad. Wakil KSAD waktu itu, Mayor Jenderal Gatot Subroto (yang juga mantan Panglima Diponegoro sebelum Soeharto) disebut mempunyai peranan penting atas putusan itu.

Nasution dan Soeharto. [foto: LIFE Magazine]
Walau meredup, tapi Nasution tetaplah Nasution. Tak beda dengan Sukarno, kekuasaan Soeharto juga menganggap Nasution sebagai rival. Setahun setelah Soeharto menjadi Presiden penuh, Nasution dibatasi dan kemudian tak tampil lagi di Sekolah Staf Angkatan Darat (Seskoad) dan Akademi Militer. Tahun 1971, Nasution bahkan dipensiunkan dari dunia militer sewaktu masih berumur 53 tahun dari jadwal resmi yaitu 55 tahun. Setahun kemudian, Nasution sudah tak lagi menjadi Ketua MPR. Secara de jure, karir militer dan politik Nasution banyak dinilai sebenarnya sudah habis.

Namun di 1978, bersama mantan Wakil Presiden, Mohammad Hatta, Nasution mendirikan Yayasan Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (YLKB). Mereka mengkritik keras Soeharto yang dinilai menjalankan kekuasaan dengan bertentangan Pancasila dan UUD 1945. Pada 5 Mei 1980, Nasution bersama tokoh-tokoh lainnya menandatangani sebuah petisi, Petisi 50, yang melayangkan kritis keras kepada kepemimpinan Soeharto. Meski demikian, Soeharto bergeming dan kukuh di puncak kekuasaan politik di Indonesia.



Pasca Petisi 50 itu, bintang Nasution tak lagi bersinar. Memasuki dekade 1990-an, seiring pertambahan umur yang kian senja, terjadilah apa yang disebut banyak orang sebagai rekonsiliasi nasional antara Soeharto dan Nasution serta tokoh-tokoh kritis lainnya. Pada Juni 1993, saat Nasution sakit, elit militer terlihat mengunjunginya. Melalui utusannya, Mentri Riset dan Teknologi, B.J. Habibie, Nasution diundang ke IPTN dan PT PAL. Tentu saja, itu semua tak mungkin dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Soeharto.

Tak butuh waktu lama untuk Nasution dan Soeharto berjumpa kembali. Sebulan berikutnya, Juli 1993, Soeharto mengundangnya ke Istana Negara dan berlanjut pada undangan pasca perayaan Hari Proklamasi RI pada 18 Agustus 1993. Empat tahun sesudahnya, tepat pada hari ulang tahun TNI, 5 Oktober 1997, Nasution disematkan pangkat Jenderal Besar oleh TNI. Di Indonesia hanya ada tiga orang yang mendapatkan pangkat itu yaitu Sudirman, Nasution dan Soeharto.

Perjalanan Nasution lantas tiba di penghujung. Tiga tahun setelah penyematan sebagai Jenderal Besar, di awal-awal tahun millenium, Nasution wafat 5 September 2000.

* * *

Apakah Nasution seorang Hamlet? Melihat sejarah hidupnya, seperti menyaksikan sebuah gerilya. Sebuah gerilya untuk menyelamatkan negerinya, Indonesia. Dia bukan Hamlet melainkan seorang savior. (*)

Nasution bersama istri dan anak-anaknya di tahun 1963.
[foto: repro buku AH Nasution Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5]

Referensi   

  • Adam, Asvi Warman. (2010). “Hatta Kambing Hitam Madiun. Artikel. Majalah Tempo Edisi Khusus 7 November 2010.
  • Adams, Cindy. (2018). Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Edisi Revisi Cetakan Kelima. Jakarta:  Yayasan Bung Karno.
  • Aidit, Dipa Nusantara. (1964). Aidit Menggugat Peristiwa Madiun (Pembelaan D.N. Aidit Dimuka Pengadilan Negeri Djakarta, Tgl. 24 Februari 1955). Cetakan ke-4. Jakarta: Yayasan Pembaruan. [sumber: https://www.marxists.org/indonesia/indones/1955-AiditMenggugatPeristiwaMadiun.htm]
  • Aly, Rum. (2006). Titik Silang Jalan Kekuasaan 1966; Mitos dan Dilema: Mahasiswa dalam Proses Perubahan Politik 1959-1970. Jakarta: Kata Hasta Pustaka.
  • Anwar, Rosihan. (2006). Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik, 1961-1965. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • _______. (2008). “”Snapshot” Amir Sjarifoeddin”. Artikel. Suara Pembaruan edisi 31 Mei 2008.
  • Atmodjo, Heru. (2004). Gerakan Tiga Puluh September 1965; Kesaksian Letkol (Pnb.) Heru Atmodjo. Jakarta: Tride.
  • Dwipayana, Gufran dan Hadimaja, Ramadan Karta. (1989). Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. Jakarta: Cipta Lamtoro Gung Persada.
  • Fic, Victor M. (2004). Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Imran, Amrin (1983). Urip Sumohardjo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Musso. (1953). Jalan Baru untuk Republik Indonesia; Musso (1948). Cetakan VII. Jakarta: Yayasan Pembaruan. [sumber: https://www.marxists.org/indonesia/indones/1948-JalanBaru.htm].
  • Nasution, Abdul Haris. (1983). Memenuhi Panggilan Tugas; Jilid 2A Kenangan Masa Gerilya. Jakarta: Haji Masagung.
  • _______ . (1984).  Memenuhi Panggilan Tugas; Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua, Jakarta: Gunung Agung.
  • _______ . (1989). Memenuhi Panggilan Tugas; Jilid 5: Kenangan Masa Orde Lama. Cetakan ke-2. Jakarta: Haji Masagung.
  • Poeze, Harry A. (2010). Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1925. Jakarta: Pustama Utama Grafiti.
  • Ricklefs, Merle Calvin. (2005). Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Said, Salim. (1991). Genesis of Power: General Sudirman and the Indonesian Military in Politics, 1945–49. Singapura: Institute of Southeast Asian Studies.
  • _______. (2015). Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto. Jakarta: Mizan.
  • Tim Pusat Data dan Analisa Tempo. (1998).  Jenderal Tanpa Pasukan, Politisi Tanpa Partai: Perjalanan Hidup A.H. Nasution. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Bagikan:

Cari Berita

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Bencinya Aidit pada Muhammad Hatta – indhie
  2. Bencinya Aidit pada Muhammad Hatta – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*