Saat Medan Berjuluk Paris van Sumatra

Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II SH, sejarahwan Medan yang lain, berkisah senada dengan Muhammad TWH soal julukan “Paris Van Sumatra” ini. Menurut dia, istilah ini sudah ada sejak lama sekali, tepatnya di zaman penjajahan Belanda. Julukan ini diberikan karena kota ini dulunya sangat indah, bersih, rapi, dan asri. Ditambah lagi bangunan-bangunannya yang dipenuhi ukiran-ukiran unik. “Sakingkan bagusnya, kita pun jadi bangga dan menjulukinya Paris Van Sumatra. Seakan-akan kota ini mirip dengan kota Paris,” kata Luckman sewaktu diwawancara semasa hidupnya pada 2009 (Luckman wafat pada 2011).



Tuanku Luckman Sinar Basyarsyah II (foto: serambi-melayu)

Karena itu pula, tambah dia, di masa itu banyak pasangan suami isti yang membawa anaknya untuk berjalan-jalan atau sekedar duduk-duduk di taman kota sembari menikmati band sebagai hiburan yang disediakan oleh Belanda setiap minggunya. Pohon-pohon yang berbeda dari setiap ruasnya seakan-akan kota ini seperti kebun bunga. “Istilah ‘Paris Van Sumatra’ itu dari bahasa pers,” terang Luckman.

Karena julukan ini dibesarkan dari bahasa pers masa itu, maka istilah Paris Van Sumatra pun hanya untuk kalangan masyarakat Kota Medan. Belanda atau pun wisatawan mancanegara tak ada yang tahu dengan julukan Kota Medan ini. “Orang Belanda tidak tahu dengan julukan ini. Yang tahu hanya masyarakat kota Medan saja,” jelas dia.

Setelah Belanda hengkang dan Jepang menguasai negeri ini, istilah itu hilang. “Soalnya kata ‘van’ itu ‘kan dari bahasa Belanda. Mana mungkin bahasa itu dipakai di masa penjajahan Jepang. Apalagi setelah itu kita merdeka dan kita sepertinya sangat anti terhadap penjajah, sehingga apapun yang berbau penjajah langsung dihilangkan. Makanya istilah itu pun hilang,” jelasnya.

Namun saat Luckman membandingkan keadaan kota Medan sekarang, “Paris Van Sumatra” seakan-akan hanya dongeng. Kekacauan dan kesemrawutan terlihat di mana-mana. Untuk memperbaikinya lagi pun dinilai sangat sulit, bahkan tidak bisa lagi. “Mustahil untuk memperbaikinya seperti dulu lagi. Inilah masyarakat kita yang tak pernah menghargai warisan sejarah yang kita punya. Pada masa di zaman Sumatera Timur, setiap hari parit dibersihkan. Tidak seperti sekarang, hujan sebentar saja sudah banjir,” sitir dia.

* * *

Kesawan Kota Medan di masa 1920-an (repro koleksi Dr Ichwan Azhari)

Ini adalah Medan. Kota yang dikenal sebagai wilayah yang dulunya banyak menyimpan sejarah dan melahirkan orang-orang besar. Plus menjadi kota penggerak modernisasi di zamannya. Namun, modernisasi bak “senjata makan tuan”; sejarah Kota Medan telah ditimbun dan digadai. (*)


penulis: nirwansyah putra
bahan: sri mahyuni, nirwansyah putra
foto: Roemono – foto-foto lama repro Dr Phil Ichwan Azhari
sumber dan catatan: artikel ini dikutip dari blog tukangngarang. Di blog ini, tulisan ini diposting pada 2009. Karena itu, konteks peristiwa berita ini adalah yang berlaku di 2009. Namun, dari pengamatan selanjutnya, belum ada perubahan mendasar pada yang dituliskan dalam artikel di atas dengan konteks kekinian di 2018. 

Bagikan:

Cari Berita

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Kawasan Lapangan Merdeka Medan Kian Renta – indhie
  2. Kawasan Lapangan Merdeka Medan, Titik Nol yang Kian Renta – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*