Saat Medan Berjuluk Paris van Sumatra

Uraian Dirk A Buiskool, seorang sejarahwan asal Belanda, soal Kota Medan menarik untuk disimak. Dari sebuah paper-nya yang berjudul “A plantation City on the East Coast of Sumatra 1870-1942 (Planters, the Sultan, Chinese and the Indian)” yang diguratnya pada 2004 lalu, Kota Medan ditulisnya dengan rapi. Dalam satu bagian, dia menggambarkan bahwa Kota Medan memang di-set sebagai sebuah kota modern. Dalam bingkai itu, termasuklah taman-taman, alokasi perumahan bagi orang-orang Eropa dan beberapa kawasan untuk kelompok orang Tionghoa, India dan “pribumi”. “Ini merupakan hasil dari model quarter system, di mana tiap-tiap populasi tinggal di lokasi yang sudah ditentukan. Sistem seperti ini dibukukan pada 1918,” tulis dia.

Kesawan di masa 1930-an (repro koleksi Dr Phil Ichwan Azhari)

Dengan model itu, seandainya ada kelompok –misalnya- Tionghoa hendak keluar dari area yang sudah ditentukan, maka perlu ada izin yang dikeluarkan oleh semacam ketua kelompok (Dirk memakai istilah “Chinese Captain”).

Pemerintah kolonial Belanda kemudian mengeset wilayah Kota Medan dengan mengadopsi gaya Eropa dengan mempergunakan model quarter system beserta aturan-aturan yang ada di dalamnya. “The quarter system made the city clearly structured,” tulis Dirk. Belanda kemudian membangun gedung-gedung bernuansa Eropa di seputar kawasan Lapangan Merdeka (dulu bernama Esplanade), Kesawan dan sekitarnya, yang kemudian dipadukan dengan perumahan elit bangsa Eropa. (baca juga: Kawasan Lapangan Merdeka Medan, Titik Nol yang Kian Renta)

“Karena banyak kediaman orang Eropa mengitari kota, maka lama-kelamaan kawasan kota menjadi sebuah ‘garden city’,” tulis Dirk. Dirk pun menyebutnya dengan istilah, “With nickname Paris of Sumatra”. Dirk sendiri, dari catatan kaki yang dituliskan dalam papernya, mendasarkan keterangannya soal itu berdasarkan ulasan penulis Eropa bernama WJ Cator dalam bukunya The Economic Position of the Chinese in the Netherlands Indies Oxford (1936)

Keasrian dan keteraturan Kota Medan tempo dulu, juga diakui orang-orang Eropa, seperti yang terungkap dalam tulisan-tulisan orang Eropa sendiri. Untuk ini, Dirk mengutip tulisan W Feldwick dalam buku Present Day Impressions of The Far East and Prominent & Progressive Chinese at Home and Abroad. The History, People, Commerce, Industries and Resources of China, Hongkong, Indo-China, Malaya and Netherlands India (1917). Seperti diungkap Dirk, di buku itu di halaman 1.185, Feldwick menulis, “Medan is the queen city of the island of Sumatra, and is, moreover, the chief trading centre on the east coast, which is the most important and progressive quarter of the island.”



Feldwick bahkan menyamakan sistem sanitasi Kota Medan dengan berbagai kota di Eropa dengan istilah “…equal to that of any English town”. Feldwick pun mengurai, Kota Medan adalah kota yang nyaman dan asri, yang kawasan bisnisnya dikelilingi oleh lingkungan dan kebun-kebun yang indah, hotel yang megah, stasiun kereta api dengan arsitektur yang indah, lapangan olahraga, bioskop dan segala atribut modern yang up to date. “And altogether, Medan is very pleasant place, a joy for ever,” tulis Feldwick dalam buku yang diterbitkan The Globe Encyclopedia Company London-Shanghai-Hongkong-Saigon-Singapore & Batavia pada 1917.

Tak hanya itu, Dirk juga menyitir pengakuan seorang perempuan warga Hungaria, Madelon Szekely, dalam biografinya berjudul Rubber yang terbit pada tahun 1935, akan keindahan Kota Medan. Madelon menuliskan pengalamannya di Kota Medan sewaktu dia menginap di Hotel De Boer (sekarang Hotel Dharma Deli Medan), dulu.

Tak cuma De Boer Hotel, hotel pertama di Kota Medan, Grand Hotel Medan, yang didirikan pada 1887, juga ternyata sempat tampil dalam sebuah novel karya orang Eropa bernama Ladiszlasz Szekely’s. Novel itu berjudul “Van Oerwoud tot Plantage” (1913). Dia bercerita, hotel itu merupakan tempat orang-orang Eropa yang bekerja di perkebunan melepaskan lelah, rehat, hingga mabuk. Itu terjadi dua kali dalam sebulan kala orang-orang Eropa itu “turun gunung” dari perkebunan-perkebunan.

* * *

(bersambung…)

Bagikan:

Cari Berita

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Kawasan Lapangan Merdeka Medan Kian Renta – indhie
  2. Kawasan Lapangan Merdeka Medan, Titik Nol yang Kian Renta – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*