Kawasan Lapangan Merdeka Medan, Titik Nol yang Kian Renta

Perubahan wajah kawasan Lapangan Merdeka sudah sedemikian kontras bila dibandingkan dengan kata “antik”. Meski demikian, menurut Muhammad TWH, sampai saat ini Lapangan Merdeka masih berfungsi sebagai alun-alun Kota Medan. Segala macam kegiatan masih dilakukan di sana, misalnya Shalat Idul Fitri hingga upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI.



Muhammad TWH (foto: sri mahyuni)

Hanya saja, tambah TWH, satu kelemahan Lapangan Merdeka ini yaitu pembangunan dan perawatan oleh Pemerintah Kota saat ini sering mengabaikan masalah kontinuitas desain. Banyak tambahan ornamen baru yang tidak nyambung dengan suasana yang sudah ada. Semisal pagar Lapangan Merdeka dan bentuk trotoar dan lampu jalanan tidak menyatu dengan suasana sekitarnya. Bahkan terakhir muncul Merdeka Walk yang merupakan pusat jajanan makanan dan hiburan. Kini Lapangan Merdeka kian sempit. “Lapangan tapi tak lapang. Tampak jelas ada perpaduan yang buruk antara masa lalu dan masa kini,” tegas dia.

Jangankan dibandingkan di masa Belanda, bila dikomparasi dengan masa 1950-an saja, wajah itu sudah jauh berbeda. “Dulu kita bisa leluasa melihat Lapangan Merdeka Medan, tapi sekarang tidak lagi. Terutama sejak di bangunnya kios-kios pedagang buku bekas dan tempat jajanan di situ. Kelihatannya semakin semrawut,” ujar Muhammad TWH.

Suasana di Merdeka Walk, Medan, Sumatera Utara. (foto: ariandi kopral)

TWH bercerita, di usia mudanya, Kota Medan diramaikan dengan pengendara sepeda. Motor dan mobil tak banyak dijumpai. Gedungnya pun masih serba asli, belum direnovasi. Misalkan di Jalan Surabaya, banyak dijumpai jejeran kios. Sedangkan di sepanjang Jalan MT Haryono sampai ke Jalan pandu terdapat 3 deretan bioskop, yakni bioskop Kapital, Morning, dan Orion. “Ada 3 atau 4 bioskop di sepanjang jalan itu. Dan di bioskop itu disediakan tempat penyimpanan sepeda dan becak, karena motor dan mobil masih sedikit. Mungkin karena penduduknya belum banyak ya, belum jutaan. paling masih 300-an lah. Jadi suasananya masih sangat lestari,” ujarnya mengenang.

Namun rupanya, cerita Lapangan Merdeka tidak hanya itu. Menurut dia, pada abad 19 lalu, oleh Belanda lapangan bersejarah ini dinamakan sebagai “Taman Burung”. Pohon-pohonnya yang belum begitu besar kerap dihinggapi burung Gereja bila senja menjelang. “Waktu itu pohonnya tidak sebesar sekarang ini. Malah kawat listrik di sepanjang Jalan MT Haryono pun dipenuh dengan burung kalau setiap sore. Cantik sekali kelihatannya karena mereka berjejer rapi di kawat itu,” kenang dia.

Lapangan Merdeka Medan ini juga punya nilai sejarah kemerdekaan yang sangat tinggi. Di situlah untuk pertama kalinya, tanggal 6 oktober 1945, Mr Muhammad Hasan sebagai Gubernur Sumut mengumumkan kemerdekaan RI kepada seluruh masyarakat Kota Medan. Pada saat itu juga, Lapangan Merdeka Medan menjadi saksi bagaimana rakyat Indonesia menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan mengibarkan bendera Merah Putih.

Di tempat itu juga kerap berkumpulnya para demonstran yang mendukung kemerdekaan serta menolak kedatangan Inggris. Semua catatan sejarah ada di lapangan itu. “Dulu waktu masih jajahan Jepang namanya bukan Lapangan Merdeka tapi Fuku Raidu. Tapi setelah itu namanya diubah menjadi Lapangan Merdeka. Di Lapangan Merdeka Medan itulah tempat Pertemuan sungai Deli dan Sungai Babura,” tuturnya.

Kata dia, perbedaan tampilan Kota Medan masa dulu dengan sekarang disadarinya sangat jauh berbeda. “Bedanya jauh sekali. Ini disebabkan karena sekarang ini manusianya makin banyak dan tidak disiplin. Tapi yang terpenting, orang yang di kota ini belum siap untuk tinggal atau duduk di kota,” katanya dengan tawa berderai.

Begitulah. (*)


penulis: nirwansyah putra
bahan: sri mahyuni, nirwansyah putra
foto: roemono, ariandi kopral – foto-foto lama repro koleksi Muhammad TWH
sumber dan catatan: artikel ini dikutip dari blog tukangngarang. Di blog ini, tulisan ini diposting pada 2009. Karena itu, konteks peristiwa berita ini adalah yang berlaku di 2009. Namun, dari pengamatan selanjutnya, belum ada perubahan mendasar pada yang dituliskan dalam artikel di atas dengan konteks kekinian di 2018.  

Bagikan:

Cari di INDHIE

1 Comment

  1. Melihat dari beberapa literatur yang mengkisahkan kota Medan. Lapangan Merdeka berfungsi sebagai ruang terbuka tempat dimana para planter2, pengusaha dan rekan bisnis berpesta dansa, selebrasi. Lapangan terbuka tempat para warga kolonial bertemu satu sama lain di waktu pagi, siang dan sore hari. Kemudian seiring masuknya sekutu Jepang, mengakhiri kolonisasi Kolonial di Sumatera Timur dan setelah Jepang kalah PD II, kesempatan emas itu dimanfaatkan oleh rakyat Sumatera Timur memerdekakan diri dan melakukan konsolidasi di Lapangan Merdeka untuk menolak kedatangan Inggris yang diboncengi oleh tentara Belanda. Lapangan Merdeka sejak saat itu telah menjadi sejumlah peristiwa penting bagi rakyat Sumatera Timur cq Sumatera Utara (1957).

4 Trackbacks / Pingbacks

  1. Paris van Sumatra, Masa Lalu Kota Medan – indhie
  2. Saat Medan Berjuluk Paris van Sumatra – indhie
  3. Akhyar Nasution Mau Buat Kesawan Medan Seperti Malioboro – indhie
  4. GP Al-Washliyah Sumut Datangi Akhyar, Rencana Datangkan Ustadz Somad – indhie

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*