Jeanne

Visualisasi Joan of Arc karya Albert Lynch yang ditampilkan di majalah Figaro Illustre 1903. [edit: iwan/indhie, sumber foto: wikipedia]

SEORANG perempuan bernama Jeanne d’Arc (Joan of Arc) lahir di Domremy, sebelah timur Perancis, pada abad ke-15. Dia tumbuh di tengah keluarga Katolik yang taat. Ketika kecil, desanya dibakar dan dijarah. Monarki Inggris dan Perancis yang menganut Katolik (termasuk kerajaan-kerajaan lain di Eropa), sedang berseteru dan mengakibatkan ketidakstabilan hukum dan ekonomi. Waktu itu, kawasan Eropa masih lagi berselimut kegelapan dan dilanda perang tak berkesudahan. Jeanne hidup dalam situasi yang disebut sejarahwan sebagai Hundred Years’ War atau Perang Seratus Tahun mulai 1337-1453.

Sewaktu remaja, dia mengaku melihat tiga sosok suci (saint) dalam Katolik: Saint Michael, Saint Catherine dan Saint Margaret. Ketiganya, menurut Jeanne, memerintahkannya untuk mengusir Inggris dari tanah Perancis dan menobatkan tahta kerajaan di Katedral Reims, Perancis.



Jeanne adalah seorang yang taat beribadah. Namun, penampakan itu membuatnya gelisah. Sosok itu tidak datang hanya sekali dan membuatnya yakin bahwa itu adalah sebuah tugas khusus kepada dirinya.

Lalu, di saat umurnya sekitar 16 tahun, dia meminta bertemu khusus dengan Charles VII, sosok yang nantinya menjadi Raja Perancis. Dia meyakinkan Charles untuk memberinya pasukan agar dapat mengusir Inggris. Dia juga meyakinkan Charles bahwa menurut bisikan sosok suci itu, hanya dialah yang dapat menuntaskan tugas itu dan Charles adalah raja yang tepat memimpin Perancis.

Keberaniannya di medan perang membuat moral pasukan Perancis yang semula rendah, meninggi. Jeanne yang selalu berdoa dengan khusuk sebelum memulai pertempuran, telah menjadi inspirasi luar biasa bagi prajurit Perancis. Perancis perlahan berhasil merebut beberapa wilayah.

Namun, akhirnya Jeanne dapat ditangkap pasukan Burundi yang sebelumnya telah menjalin aliansi dengan Kerajaan Inggris. Dia dihadapkan ke pengadilan yang dipimpin Uskup Pierre Cauchon di Rouen, Perancis. Pengadilan itu diawasi langsung oleh John of Lancaster Duke of Betford, anak ketiga Raja Inggris, Henry IV, yang ditugasi memimpin wilayah Perancis. Jeanne dinyatakan bersalah menyebarkan kesesatan. Dia dihukum mati.

Tubuhnya dibakar pada 30 Mei 1341.

* * *

Salah satu versi kisah Jeanne di atas, bisa dilihat dari salah satu karya seorang sutradara Perancis, Luc Paul Maurice Besson dalam film The Messenger: The Story of Joan of Arc (1999). Luc telah membuat tafsir baru atas kisah Jeanne. Sebuah tafsir yang tak mudah. Apalagi sosok Jeanne bukanlah diceritakan dalam suatu plot tunggal dalam sejarah.

Lebih seabad setelah pembakaran fisik Jeanne, pada 1456 sebuah pengadilan yang disahkan Paus Callixtus III, memeriksa persidangan yang pernah dilakukan terhadap Jeanne. Pengadilan itu memutuskan Jeanne tidak bersalah dan menyatakan Jeanne adalah seorang martir.

Pada abad ke-16, Jeanne menjadi salah satu simbol bagi pihak pendukung Katolik Roma menghadapi kaum Huguenots yang berhaluan Calvinis Protestan dalam konflik agama di Perancis yang terjadi kurun 1562-1598. Tahun 1803, Napoleon Bonaparte menjadikannya simbol nasional Perancis. Setelah itu, sosok Jeanne disucikan dan diangkat sebagai salah seorang dari sembilan santo di Perancis. (*)


Nirwansyah Putra
~ indhie


Bagikan:

Cari Berita

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*