Kau Telah Buta…

Senja di Makassar. [foto: indhie]

Seseorang menyangka telah melihat seluruhnya bersama matahari; di kala siang, saat benderang meliputi seluruh alam. Dia melihat banyak hal. Terkesima, lalu memuja dan bahkan menyembahnya; menganggapnya sumber pencerahan, enlightment, renaissance. Dia pun mengutuk kegelapan.

Tapi, malam pasti datang menyelimuti alam. Lantas, dia terperangah. Di sudut langit yang bersih, bintang-bintang bercengkrama dengan indahnya, seperti laiknya suatu jamuan. Di sudut lain, kunang-kunang berterbangan pelan di sudut matanya. Lalu, kini ada jingga, merah yang bukan merah, biru yang bukan biru, dan lain-lain warna yang menyergap matamnya yang kecil itu. Kegelapan yang dikutuknya tadi, telah mempertontonkannya lebih banyak lagi.



Tapi, dia terlanjur suka mengutuk. Dia pun mengutuk, lagi: di manakah kalian bersembunyi selama ini?

Bintang-bintang dan kunang-kunang berhenti sejenak, menolehnya. Mereka tersenyum, kembali bercengkrama, mengajaknya menari. “… Duhai, benderang telah menyilaukan matamu. Kaulah yang telah buta. Kami tak pernah bersembunyi. Selalu di sini, di dekatmu. Bahkan, ada yang lebih dekat dari urat lehermu sendiri…” (*)

***


Nirwansyah Putra 
[indhie] – botlem 


 

Cari di INDHIE