Semut – indhie.com

Semut

Rombongan semut. [foto: net]

SABTU, 19 November 2022. Hujan tak jadi turun pagi itu di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Namun, sisa-sisa hujan malam tadi sudah terlanjur membekas di jalan-jalan.

Di pagi itu, rombongan demi rombongan ibu-ibu berpakaian warna hijau dan jilbab krem, warna-warni yang lain, model baju dan jilbab yang tak serupa, melangkah dengan sandal dan sepatu mereka; memenuhi pinggir-pinggir jalan menuju Stadion Manahan Solo yang terletak di inti kota. Beriringan, adalah kaum bapak yang berkopiah, berlobe, tak berkopiah dan tak berlobe, mengenakan batik hijau tua, ataupun tak berbatik dan juga tak berwarna hijau tua. Lalu, ada anak-anak, remaja, gadis dan anak-anak muda yang menyertai dan seperti mengawal rombongan kaum ibu dan bapak itu. Di jejeran jalan-jalan itu, terparkirlah begitu banyak bus-bus besar dan sedang. Di tempat-tempat lain, mobil dan sepeda motor ada yang diparkir, tetapi ada juga yang berhilir-mudik. Jadi, ada manusia-manusia, kendaraan, pemukiman dan penginapan, warung dan toko-toko, lanskap kota, dan ada gerak menuju tujuan: stadion. Kesemuanya terhubung, baik dalam stadion dan luar stadion, pada satu kata: peristiwa.

Peristiwa demi peristiwa itu, bila diibaratkan seperti irama musik, mungkin tidak tampak seperti irama musik klasik Eropa yang begitu rapi dan teratur. Atau, seperti drum band bagi mereka yang sedang dan suka dengan baris-berbaris, ataupun mengiring prajurit-prajurit menuju medan laga. Ini lebih spontan dan zigzag.

Gerak manusia-manusia tadi juga tidak linear, terus berjalan lurus seperti mesin yang terus digas di jalan tol. Tidak. Mereka ada yang diam saja, bercengkrama, tertawa, dan sebagian ada yang harus berteriak memanggil kelompok anak-anak yang berjalan sambil melompat-lompat dan tidak sadar telah berada di tengah jalan beraspal. Sebagian terus berjalan, sebagian lagi berhenti sejenak di pelataran, di teras masjid dan mushalla hingga di depan rumah-rumah dan warung. Sesampainya ke stadion, ada yang mendengar pidato, jajan, bercakap-cakap, melamun, bertransaksi dengan pedagang, cemberut, gembira, lelah, dan seterusnya.



Dalam penglihatan awal, maka keseluruhannya seperti berserak. Namun, rupanya tidak juga. Pandangan seolah-olah tak berirama itu, seperti berserak-serak, sejatinya akan luruh juga. Saya lalu membayangkan sedang mengendalikan sebuah drone. Melihat gerak perjalanan, kamera akan memerlihatkan gambaran manusia-manusia yang menggeliat, bergerak pelan tapi pasti, maju terus menuju satu titik yaitu stadion itu tadi. Dilihat dari titik yang begitu tinggi, maka rombongan demi rombongan manusia-manusia tadi telah membentuk noktah-noktah, kadang besar kadang kecil, beriring seperti perjalanan rombongan semut.

Janganlah lupa, rombongan semut-semutlah yang mampu membuat Nabi Sulaiman tersenyum dan tertawa dan menghentikan sejenak rombongan besar maharaja yang mulia itu.

Sebagian orang mungkin menafsir peristiwa semut itu sebagai metafor, sebagiannya lagi mungkin juga akan menafsirnya sebagai realitas, bahwa peristiwa itu memang terjadi apa adanya. Mereka yang menganggapnya metafor, di antaranya beralasan, manusia tak mungkin berbicara dan mengerti bahasa semut, demikian juga sebaliknya.

Namun, bukankah sebuah peristiwa sesungguhnya juga bisa mempunyai dua gendang; suatu realitas dan sekaligus suatu metafor? (*)


Nirwansyah Putra
[indhie]