Kisah Sukarno Bertemu Marhaen dan ‘Marhaenisme’

Sukarno bersua dengan seorang petani muda bernama Marhaen di Bandung. Perjumpaan itu kemudian memunculkan ide ‘marhaenisme’. Apa maksud Sukarno dengan 'Marhaenisme'?
Ir. Sukarno [Foto: dok IPPHOS/Indonesia Press Photo Service]

SUKARNO berangkat ke Bandung di minggu terakhir Juni 1921. Dia melanjutkan studi sebagai mahasiswa Technische Hoogeschool te Bandoeng (THB, atau Institut Teknologi Bandung/ITB sekarang) yang dibuka tahun 1920. Sewaktu Sukarno masuk, mahasiswa pribumi yang masuk universitas bikinan Belanda itu hanya 11 orang, termasuk dirinya. Sukarno masih lagi berumur 20 tahun saat ilham politik mengenai ‘marhaenisme’ itu datang padanya.

Bermula pada suatu pagi, Sukarno melihat seorang petani yang sedang mencangkul sawah di selatan kota Bandung, Jawa Barat. Dia menghampiri, lalu terjadilah dialog. Petani yang masih muda itu bernama Marhaen. Singkat cerita, dari perjumpaan di pagi itu, Sukarno kemudian mengolah konsep ‘marhaenisme’ sepanjang hari. Malamnya, dia langsung menyampaikan ide ‘marhaenisme’ itu ke perkumpulan pemuda yang diikutinya.

Kisah itu diceritakan dalam buku karya Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia ([1965] 2018, edisi revisi cetakan kelima, terj. Syamsu Hadi, hh. 73-75). Berikut petikannya:

” ……. Perhatianku tertuju pada seorang petani yang sedang mencangkul tanah miliknya. Dia seorang diri. Pakaiannya lusuh. Gambaran yang khas ini membuatku ingin menjadikannya sebagai perlambang dari rakyatku. Aku berdiri di sana dan diam-diam memperhatikannya. Kami adalah bangsa yang ramah, maka aku mendekatinya. Tanyaku dalam bahasa Sunda, “Siapa pemilih tanah yang kau garap ini?”
       Dia menjawab, “Saya, juragan.”
       Kataku, “Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?”
       “O, tidak, ‘gan. Saya memilikinya sendiri.”
       “Apakah kau membeli tanah ini?”
       “Tidak. Itu turun-menurun diwarikan dari orang tua kepada anaknya.”
       Ketika ia terus menggali, aku pun mulai menggali…. secara mental. Aku berpikir mengenai teoriku. Dan semakin keras aku berpikir, pertanyaanku semakin banyak. “Bagaimana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apakah milikmu juga?”
       “Ya, ‘gan.”
       “Dan cangkul itu?”
       “Ya, ‘gan.”
       “Lalu hasilnya untuk siapa?”
       “Untuk saya, ‘gan.”
       “Apakah hasilnya cukup untuk kebutuhanmu?”
       Dia mengangkat bahu sebagai bentuk kekecewaan. “Bagaimana sawah yang begini sempit bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan seorang istri dan empat orang anak?”
       “Apakah kau menjual sebagian hasilnya itu?” aku bertanya.
       “Hasilnya sekadar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual.”
       “Apakah engkau memperkerjakan orang lain?”
       “Tidak, ‘gan. Saya tidak mampu membayarnya.”
       “Apakah engkau pernah kerja pada orang lain?”
       “Tidak, ‘gan. Saya harus membanting tulang, tetapi jerih-payah saya semua untuk diri saya.”
       Aku menunjuk sebuah gubuk kecil. “Siapa pemilik rumah itu?”
       “Itu rumah saya, ‘gan. Kecil, tetapi milik saya sendiri.”
       “Jadi kalau begitu,” kataku sambil menyaring pikiranku sendiri ketika kami berbicara, “Semua ini milikmu?”
       “Ya, ‘gan.”
       Kemudian aku menananyakan nama petani muda itu. Dia menyebut namanya, Marhaen. Marhaen adalah nama umum seperti Smith dan Jones. Di saat itu cahaya ilham melintas di otakku. Aku akan memakai nama itu untuk menamai semua orang Indonesia yang bernasib malang seperti dia! Semenjak itu kunamakan rakyatku Marhaen.
       Sepanjang hari yang tersisa aku mendayung sepeda berkeliling mengolah konsepku yang baru. Dan malam itu aku memberikan ceramah kepada perkumpulan pemudaku.
       “Para petani kita mengusahakan bidang tanah yang sangat kecil sekali. Mereka adalah korban dari sistem feodal, di mana pada awalnya petani pertama diperas oleh bangsawan yang pertama, dan seterusnya sampai ke anak-cucunya selama berabad-abad. Rakyat yang bukan petani pun menjadi korban dari imperialisme perdagangan Belanda, karena nenek-moyangnya telah dipaksa untuk hanya bergerak di bidang usaha yang kecil sekadar bisa memperpanjang hidupnya. Rakyat yang menjadi korban ini, yang meliputi hampir seluruh penduduk Indonesia, adalah Marhaen.”
       Aku menunjuk seorang tukang gerobak, “Engkau, …engkau yang di sana. Apakah engkau bekerja di pabrik untuk orang lain?”
       “Tidak,” jawabnya.
       “Kalau begitu engkau seorang Marhaen.”
       Aku menggerakkan tangan ke arah seorang tukang sate. “Engkau, … engkau tidak punya pembantu, tidak punya majikan, engkau juga seorang Marhaen. Seorang marhaen adalah orang yang memiliki alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, sekadar cukup untuk dirinya sendiri. Bangsa kita yang puluhan juta jiwa, yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Tidak ada pengisapan tenaga seseorang oleh orang lain. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktik.”
       Perkataan ‘Marhaenisme’ adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional kami.……. ”

* * *



Meski dengan aktivitas politik yang padat, tetapi Sukarno tetap menyelesaikan pendidikannya di THB (ITB). Dia diwisuda pada 25 Mei 1926 dengan gelar ‘Ingenieur’ teknik sipil dengan spesialisasi pekerjaan jalan raya dan pengairan. Hanya ada dua orang Indonesia yang lulus bersamanya waktu itu.

Hingga kini, ‘marhaenisme’ tetap menjadi pemikiran yang terus digali orang Indonesia. (*)

Cari di INDHIE