Hari Ini, 5 Januari 1928: Zulfiqar Ali Bhutto Dilahirkan

Sebagai Presiden, Zulfiqar duduk di periode 1971-1973 dan Perdana Menteri Pakistan pada 1973-1977. Namun kemudian, dikudeta oleh militer Pakistan di bawah komando Jenderal Muhammad Zia-ul-Haq. Setelah dikudeta, dia dihukum gantung pada 4 April 1979.
Zulfiqar Ali Bhutto. [foto: DAWN]

5 JANUARI. Zulfiqar Ali Bhutto lahir di tanggal ini pada tahun 1928. Dia merupakan Presiden Pakistan ke-4 dan Perdana Menteri Pakistan ke-8.

Sebagai Presiden, Zulfiqar duduk di periode 1971-1973 dan Perdana Menteri Pakistan pada 1973-1977. Namun kemudian, dikudeta oleh militer Pakistan di bawah komando Jenderal Muhammad Zia-ul-Haq. Setelah dikudeta, dia dihukum gantung pada 4 April 1979.

Anak perempuannya, Benazir Bhutto, juga kelak menjadi Perdana Menteri ke-12 (1993-1996). Dia bernasib sama dengan ayahnya, wafat karena dibunuh. Benazir wafat pada 27 Desember 2007 karena ditembak di bagian leher dan penembaknya kemudian melakukan bom bunuh diri.

* * *

Zulfiqar lahir di Sindh, selatan Pakistan. Dia anak Sir Shah Nawaz Bhutto, seorang tokoh dan pejabat tinggi untuk negara bagian Junagadh. Zulfiqar kemudian kuliah di Universitas California, Berkeley dan Universitas Oxford.

Dia menikah dengan Shireen Amir Begum pada 1943, tetapi berpisah dan kemudian menikahi Begum Nusrat Ispahani ​pada 1951. Nusrat adalah seorang keturunan suku Kurdi yang lahir di Isfahan, Iran. Keluarga Ispahani ini kemudian pindah ke Bombay, India, dan lalu pindah ke Karachi, Pakistan, setelah terbelahnya India dan Pakistan. Zulfiqar dan Nusrat memiliki empat anak: Benazir Bhutto, Murtaza Bhutto, Sanam Bhutto, dan Shahnawaz Bhutto.

Istri Zulfiqar Ali Bhutto, Nusrat (tengah) bersama keempat anak mreka: (kiri ke kanan) Benazir, Shahnawaz, Sanam, dan Murtaza. [foto: samaa.tv/wikipedia]
Sekembalinya, Zulfiqar masuk politik dan menjadi salah satu menteri di kabinet Presiden Iskandar Mirza dan Ayub Khan. Pada 1963, dia diangkat menjadi Menteri Luar Negeri Pakistan. Di masa itu, Pakistan kemudian menyatakan perang dengan India di Kashmir pada 1965.

Namun, dia berpisah jalan dengan Presiden Ayub Khan dan kemudian mendirikan Partai Rakyat Pakistan pada 1967. Pada 1971, dia berhasil menjadi Presiden Pakistan.

Setahun sesudah itu, dia membebaskan 43.500 tawanan perang dan memerkuat hubungan dengan Uni Soviet, China, dunia Arab, Iran, serta memerbaiki relasi dengan India dan Bangladesh yang sebelumnya perang dengan Pakistan. Dia juga setuju dengan kebijakan politik ekonomi Gerakan Non-Blok meski Pakistan baru menjadi anggota penuh justru setelah dia wafat. Meski, kalangan AS lebih menilai miring kedekatan Zulfiqar dengan Soviet, musuh utama AS saat itu.

Zulfiqar punya jalannya sendiri dengan pola yang jelas: dikenal pengusung kuat solidaritas Asia-Afrika dan negara-negara muslim dunia. Kepemimpinannya di dunia Islam kian menjulang saat 1974, dia menjadi tuan rumah Organisasi Konferensi Islam (OKI) kedua yang digelar di Lahore, Pakistan.



Pada 1973, dia duduk sebagai Perdana Menteri yang merupakan posisi pemerintahan yang lebih berkuasa di Pakistan. Gagasannya tentang program nuklir Pakistan jelas menyentak dunia barat.

“Kami (Pakistan) mengetahui bahwa Israel dan Afrika Selatan memiliki kapabilitas nuklir yang lengkap… suatu peradaban Kristiani, Yahudi, dan Hindu memiliki kemampuan ini… peradaban Islam tak memilikinya, tapi situsi ini akan segera berubah…” kata dia pada 1978 seperti dikutip dari nuclearweaponarchive.org.

Program nuklir Pakistan ini merupakan di antara sebab utama rusaknya hubungan Pakistan dan Amerika Serikat (AS). Hubungan kemudian hancur di masa Presiden AS dijabat Jimmy Carter di mana AS kemudian mengembargo Pakistan.

Di dalam negeri, dia membuat kebijakan yang mengurangi kekuasaan tuan-tuan tanah feodal Pakistan di Balochistan. Dia juga memecah konsentrasi kekayaan di Pakistan. Di mana sebelumnya di masa Ayub Khan, sebanyak 66% modal industri dan kendali finansial perbankan hanya tertumpuk di 22 keluarga kaya Pakistan. Dia juga disebut-sebut terlampau membela kaum buruh.

Internal Pakistan bergolak dan Barat menolak.

* * *

Pada 1976, Zulfiqar menunjuk Jenderal Zia Ul-Haq sebagai Panglima Militer Pakisan, sebuah pilihan yang nantinya berakibat tragis pada dirinya sendiri. Zulfiqar masih dapat memenangkan Pemilu 1977. Pemilu itu menjadi awal titik balik bagi Zulfiqar. Dia berulangkali ditangkap dan dilepas. Pada 1979, Jenderal Zia memimpin kudeta militer kepada dirinya dan membawanya ke Mahkamah Agung Pakistan.

Zulfiqar Ali Bhutto dan Jenderal Zia Ul-Haq pada 1976. [foto: tariqluqmanview.blogspot]
Berulang kali pengadilan digelar dan berungkali pula hukuman mati diarahkan ke Zulfiqar. Akhirnya, atas kekuasaan Jenderal Zia, MA Pakistan menjatuhi hukuman mati dengan tuduhan bahwa Zulfiqar bertanggung jawab atas pembunuhan musuh politiknya, Nawab Muhammad Ahmed Khan Kasuri.

Pemimpin muslim dunia terkejut. Bahkan pemimpin Libya, Muammar Qaddafi, khusus mengirim utusan untuk membujuk Jenderal Zia. Tetap tak berhasil.

Hukuman gantung kemudian digelar di penjara Rawalpindi pada 4 April 1979.  Zulfiqar dikubur di pemakaman keluarga Bhutto di kampung halamannya, desa Garhi Khuda Baksh, Sindh. Dia dimakamkam berdampingan kedua istrinya, Nusrat dan Shireen Amir Begum, dan ketiga anaknya, Benazir, Shahnawaz, dan Murtaza.

“Aku tidak membunuh orang itu. Tuhanku tahu itu… Aku seorang muslim. Nasib seorang muslim ada dalam kuasa Tuhan Yang Maha Besar. Aku dapat menghadap-Nya dengan hati nurani yang bersih dan mengatakan kepada-Nya bahwa aku telah membangun kembali Negara Islam Pakistan-Nya dari abu menjadi bangsa yang terhormat. Aku sepenuhnya berdamai dengan hati nuraniku di lubang hitam Kot Lakhpat ini. Aku tidak takut mati. Engkau telah melihat api macam apa yang sudah kulalui.”

(Zulfiqar Ali Bhutto, Juni 1978, dalam My Dearest Daughter: A Letter From the Death Cell, 2007)

Meski demikian, partai yang didirikannya, Partai Rakyat Pakistan, masih terus berlanjut dan dapat membawa kembali kejayaan keluarganya melalui putrinya, Benazir Bhutto. Dan kini, partai ini diketuai oleh cucunya, anak Benazir Bhutto: Bilawal Bhutto Zardari. (*)


Perangkum: Nirwansyah Putra

Cari di INDHIE