Tahanan Polrestabes Medan Tewas Diduga Dianiaya, Keluarga Tempuh Jalur Hukum

Sumantri SH selaku kuasa hukum keluarga almarhum Hendra Syaputra (tahanan Polrestabes Medan), didampingi Hermansyah adik almarhum saat memberikan keterangan kepada wartawan di Rumah Sakit Bhayangkara Medan, Rabu (23/11/2021). [foto: Hendra]

MEDAN | Tahanan Unit Reskrim Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Medan, Hendra Syaputra, tewas diduga dianiaya. Saat diketahui keluarga korban, tubuh dan bagian wajah Hendra Syaputra ditemukan adanya bekas lebam.

Kepada wartawan, adik korban, Hermansyah, meminta Polda Sumut untuk mengusut tuntas adanya tindakan kekerasan terhadap tahanan Polrestabes Medan.

“Kami tidak menerima atas tindakan oknum polisi melakukan tindak kekerasan terhadap tahanan (almarhum) abang saya. Pihak keluarga melakukan proses autopsi terhadap jenazah almarhum guna proses menempuh jalur hukum agar perbuatan yang serupa tidak terjadi kembali kepada orang lain,” tegas Hermansyah di dampingi kuasa hukumnya Sumantri SH di Rumah Sakit Bhayangkara Medan, Rabu (24/11/2021).

Menurutnya, usai diserahkan keluarga pelapor ke Polrestabes Medan, pihaknya bertemu korban masih dalam keadaan sehat dan kondisi baik. “Proses hukum yang kami lakukan ini tidak hanya sebatas adanya pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) yang kuat dugaan permainan oknum polisi di Rumah Tahanan (Rutan) Polrestabes Medan,” ungkap Hermansyah.



Dikatakan, almarhum (Hendra Syaputra) sempat menyampaikan kabar via telepon seluler meminta pihaknya sesegera mungkin untuk mengirimkan “uang kamar”. “Permintaan korban untuk uang kamar di Rutan Polrestabes Medan sudah kami penuhi sesuai besaran yang diminta,” beber Hermansyah yang mengaku memiliki bukti transfer uang ke rekening yang diarahkan kepala kamar (Palkam) yang diduga kuat suruhan oknum polisi tersebut.

Ditegaskannya, semua bukti percakapan di media sosial (medsos) WhatsApp dan bukti transfer sangat cukup kuat menjadi bukti awal bahwa jelas adanya transaksi yang terorganisir oleh oknum petugas kepolisian.

“Kami melalui kuasa hukum keluarga sudah mempersiapkan untuk meminta instansi Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara, Komnas HAM, Kontras dan Komisi III DPR RI agar membentuk tim independen mengusut tuntas hingga akar-akarnya. Kami juga meminta tegas kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia memberikan hal ini menjadi atensi, agar kasus yang diduga kuat dilakukan secara terorganisir dan masif ini bisa dibersihkan dari lingkungan institusi Polri,” tegasnya.

Diketahui, Hendra Syaputra di tahan atas dasar laporan dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur pada Kamis, 11 Nopember 2021, di Desa Tanjung Anom, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deliserdang. Saat itu, lanjut Hermansyah, almarhum diamankan dalam kondisi sehat dan baik tanpa ada tindakan anarkis oleh phak sekuriti perumahan bersama warga ke Polsek Pancur Batu.

“Dua hari lalu saya bertemu langsung melihat keadaan abang saya yang dalam kondisi sehat dan baik. Kenapa pagi tadi (Rabu, 24 Nopember 2021) kami mendapat kabar abang saya sudah meninggal dengan kondisi yang jelas ada dugaan kuat penganiayaan yang diperoleh oleh korban,” terangnya.

Pantauan di Rumah Sakit Bhayangkara Medan, jenazah korban usai diautopsi dibawa dengan ambulans guna disemayamkan di rumah duka di Komplek Taman Setia Budi Indah, Kelurahan Tanjung Rejo, Medan Sunggal. Jenazah korban dimakamkan di tempat pemakaman umum usai shalat Ashar. (*)


Laporan: Hendra

Cari di INDHIE