Press "Enter" to skip to content

Dengan segenggam pistol, petugas berusaha mengendalikan keadaan pasca penyerangan parade militer di Ahvaz, Iran, Sabtu 22 September 2018.
[foto: Behrad Ghasemi/ISNA/Associated Press/cbc.ca]

Dalang Serangan Parade Militer Iran Dieksekusi Mati di Irak

|

Abu Zhuha, seorang yang disebut sebagai dalang serangan parade militer Iran di Provinsi Ahvaz, Iran, 22 September 2018 lalu, dieksekusi mati. Eksekusi dilakukan di Dilayah, Irak, oleh sayap militer partai politik Irak, Munazzama Badr.


PenulisNirwansyah Putra


Hadi al-Ameri, Sekretaris Jenderal Munazzama Badr, Partai Politik di Irak, mengumumkan, kalau mereka telah mengeksekusi Abu Zhuha dan empat orang rekannya, pada Selasa (16/10/2018) waktu setempat, di provinsi Diyala, Irak. Eksekusi itu dilakukan oleh sayap militer mereka, Brigade Badr; nama awal organisasi ini yang dulu didirikan pemerintah Iran pada 1982 saat konflik Irak-Iran.

Abu Zhuha disebut sebagai pelaku utama penyerangan parade militer Iran di Ahvaz, Iran, pada 22 September 2018 lalu. Demikian dilansir dari kantor berita Iran, IRNA, pada Rabu (17/10/2018), yang mengutip dari Sumeria News Agency.

Hadi al-Amiri (dua dari kanan) di tengah-tengah pasukan Brigade Badr di Irak.
[foto: Reuters/ft.com]

IRNA juga melaporkan, pejabat Sepâh-e Pâsdârân-e Enghelâb-e Eslâm (The Islamic Revolution‘s Guard Corps/IRGC) atau Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, juga telah mengkonfirmasi eksekusi itu. Abu Zhuha dikatakan merupakan perwira militer Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Penyerangan parade militer Iran yang terjadi pada Sabtu, 22 September 2018 lalu di Ahvaz, Iran, ini, mengakibatkan 25 orang tewas, termasuk seorang anak berumur 4 tahun. Sebanyak 12 orang disebutkan berasal dari Pasukan Garda Revolusi. Sejumlah 70 orang mengalami luka-luka kritis termasuk anak-anak. Ahvaz terletak di provinsi Khuzestan, wilayah Iran yang kaya akan minyak. Parade militer ini merupakan bagian dari upacara peringatan invasi Irak ke Iran pada 1980 lalu.

Prajurit Iran berusaha menyelamatkan diri pada saat penyerangan parade militer.
[foto: EPA/thenational.ae]

Seorang prajurit Iran membawa seorang anak, sementara di sebelahnya seorang ibu dan anaknya berusaha menyelamatkan diri dari serangan di parade militer Iran.
[foto: AP Photo/Mehr News Agency, Mehdi Pedramkhoo/militarytimes.com]
Sebelumnya, kelompok Perlawanan Nasional Ahvaz (Ahvaz National Resistence/ANR), organisasi yang menuntut pemisahan Khuzestan dari Iran, mengklaim bertanggung jawab terhadap penyerangan itu. ANR mengklaim tindakan mereka merupakan bagian dari Al-Ahwaziya atau Arab Struggle Movement for the Liberation of Ahwaz (ASMLA). Namun, ASMLA menolak klaim tersebut.



Di sisi lain, ISIS pun mengklaim hal yang sama. Pada 27 September, koran ISIS, al-Naba, merilis foto lima orang bertopeng yang disebut sebagai penyerang parade itu.

Namun, Iran tampaknya lebih meyakini pelakunya adalah ISIS daripada ANR. Selain mengeksekusi Abu Zhuha yang adalah anggota ISIS, pada 1 Oktober kemarin, Iran menyatakan telah menewaskan pemimpin ISIS di kawasan timur Syiria, Hajin. Masing-masing enam misil Zulfiqar dan Qiam diluncurkan Pasukan Garda Revolusi dari provinsi Kermanshah, Iran, ke Hajin, yang disebut sebagai markas gerakan serangan di Ahvaz tersebut. Brigadir Amir Ali Hajizadeh, Komandan Korps Udara Pasukan Garda Revolusi, mengklaim, serangan itu berhasil menewaskan setidaknya 40 pimpinan ISIS.

Sebelumnya, pemimpin Iran, Ayatullah Ali Khamenei telah menyatakan, penyerangan parade militer itu dibekingi oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat. Khamenei bertekad akan menghukum siapapun yang berada di balik serangan itu. Tudingan ke UEA ini, berkaitan dengan cuitan Prof. Abdulkhaleq Abdulla, akademisi yang disebut-sebut sebagai penasehat Putra Mahkota UEA, Pangeran Mohammad bin Zayed al-Nahyan, yang mengatakan, serangan militer ke sebuah target militer bukanlah sebuah tindakan terorisme. Statemen ini jelas dianggap menjadi pertanda keterlibatan UEA.

 

“Kejahatan ini merupakan sebuah kelanjutan dari persekongkolan negara-negara di wilayah (Timur Tengah) yang merupakan boneka Amerika Serikat. Tujuan mereka adalah menciptakan ketidakamanan di negara kita tercinta,” kata Khamenei seperti dikutip reuters dari situs Khamenei. Beberapa media Iran juga menduga hal yang sama seperti statemen Khamenei. Namun, Arab Saudi dan UEA kemudian secara resmi membantah keterlibatan mereka.

Ayah Mohammad Taha Eghadami, seorang anak berumur 4 tahun yang menjadi korban penyerangan parade militer Iran, tampak memeluk peti jenazah anaknya sebelum dimakamkan bersama korban lainnya pada 24 September 2018.
[foto: AP Photo/Ebrahim Noroozi/theprovince.com]
Serangan parade militer itu telah membuat kesedihan yang mendalam di seluruh Iran. Ribuan warga Iran tampak menghadiri pemakaman para korban pada 24 September lalu. (*)

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *