Press "Enter" to skip to content

Pemboman gedung WTC di Amerika Serikat pada 11 September 2001 yang disebut Amerika Serikat dilakukan kelompok AL-Qaeda

Menelusur Jejak Terorisme di Dunia

|

Wacana yang muncul di permukaan di balik tema besar terorisme saat ini, susah disangkal, telah menuduh dan memojokkan Islam yang dikenal sebagai agama yang cinta damai, kemerdekaan dan menyerukan kasih sayang kepada setiap manusia. Tapi telurusan terhadap sejarah terorisme di dunia justru berkata sebaliknya. Tema ketidakadilan, kepentingan dan persaingan sosial-politik-ekonomi hingga permainan intelijen negara juga mengemuka. Semoga bermanfaat.

* * *



“Seorang revolusioner adalah seorang yang terkutuk. Dia tidak memiliki kepentingan pribadi, hubungan, sentimen, dasi, properti atau bahkan namanya sendiri. Seluruh keberadaannya telah dilahap oleh satu tujuan, satu pikiran, satu gairah, yaitu revolusi. Hati dan jiwa, bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan, ia telah memutuskan setiap hubungan dengan seluruh tatanan sosial dan peradaban dunia; hukum, sopan santun, konvensi, dan moralitas dari dunia. Dia adalah musuh tanpa belas kasihan dan terus melakukannya hanya untuk satu tujuan, untuk menghancurkannya.

Seorang revolusioner harus menyusup ke masyarakat termasuk polisi. Dia harus mengeksploitasi orang-orang kaya dan berpengaruh, hingga menjadi bawahannya. Dia harus memperburuk penderitaan rakyat biasa, sehingga kesabaran mereka terbuang dan menghasut mereka untuk memberontak. Dan akhirnya , ia harus bersekutu dengan kebiadaban dan kekerasan, satu-satunya kebenaran revolusioner yang sejati di Rusia.”

Sergey Nechayev, menulis kalimat di atas itu dalam bukunya berjudul Catechism of Revolutionary di akhir musim dingin tahun 1869. Nechayev memang tak ingin berbasa-basi. Prinsip utama dari Catechisme adalah “the ends justtify the means” (tujuan menghalalkan segala cara). Hal ini menjadi slogan Nechayev sepanjang hidupnya. Menurut Martha Crenshaw yang menulis dalam bukunya Terrorisme in Context (1995), Nechayev memanggil dirinya sendiri sebagai seorang “teroris”. Nechayev sendiri telah mendirikan kelompok teroris di Rusia berjuluk Народная расправа (Retribusi Rakyat).

Sergey Nechayev

Sergey, lahir 2 Oktober 1847, digolongkan dalam penganut paham Nihilisme, dia tak mengakui apapun. Tapi dia juga punya pandangan soal komunisme ala Karl Marx dan Friedrich Engels, seperti yang ditulisnya dalam The Fundamentals of the Future Social System (1870). Keduanya kemudian menyebut –kalau tidak bisa disebut “mengejek”– paham Nechayev sebagai Barrack Communisme, komunisme yang kasar, ketika seluruh kehidupan masyarakat dan individu dikontrol oleh kekuasaan yang maha-diktator.

Tapi Nechayev dikenal tak pernah merangkai serangan bom seperti yang dikenal dalam modus operandi terorisme di zaman modern seperi sekarang. Dia ditangkap karena membunuh seorang koleganya yang tak sepaham dengan dirinya, I. I. Ivanov pada 21 November 1869. Pada 3 Desember 1882 (sebagian mengatakan 21 November 1882), Nechayev ditemukan mati di selnya.

Namun, melacak aksi terorisme bukan cuma merujuk pada Nechayev yang lebih pada meneror paham masyarakat. Sebuah kelompok bernama Sicarii Zealots, yang hidup di awal Masehi, ditunjuk sebagai bentuk awal aksi terorisme dalam aksinya yang faktual. Sicarii yang berarti “lelaki dengan belati”, dikenal karena aksinya menghancurkan Kota Yerusalem pada tahun 70 Setelah Masehi. Sicarii merupakan sempalan dari kelompok Zelot Yahudi yang sangat radikal dalam aksinya. Mereka melawan pendudukan Roma di Yudea dan berupaya mengusir imperium itu di sana. Dinamakan Sicarii karena kelompok ini menyembunyikan belatinya di balik jubahnya. Mereka menyerang dan membunuh tanpa pandang bulu, baik pejabat maupun orang Roma biasa, apakah itu dalam kerumunan ataupun dalam sebuah pertemuan. Salah seorang korban mereka adalah Pastur Agung Jerusalem, Jonathan.

Ketika perang antara Yahudi-Roma yang pertama (66-73), Sicarii mendapat akses masuk ke Jerusalem yang diduga didukung oleh kelompok Yahudi Zealot, untuk memperbesar pasukan perang. Mereka menghancurkan pasokan makanan di kota tersebut sehingga orang-orang pun marah ke imperium Roma. Bos mereka antara lain bernama Menahem ben Yehuda dan Eleazar ben Ya’ir. Aksi mereka cukup kejam. Mereka menyembelih 700 pasukan Roma, demikian juga anak-anak dan wanita.

Al-Hashshashin, sebuah kelompok yang dipimpin oleh Hassan-i Sabbah pada akhir abad ke-11 di Persia juga terkadang disebut teroris. Namun, tidak seluruh pengamat mengatakan kelompok ini sebagai teroris namun hanya digolongkan kelompok pembunuh bayaran biasa karena aksi mereka membunuh pemimpin politik tidak terkait dengan intimidasi terhadap musuh-musuh politik ataupun menginspirasi pemberontakan. Kelompok ini beroposisi terhadap Dinasti Fatimiyah, namun tidak punya kekuatan besar untuk melawan kekuatan militer sehingga yang bisa mereka lakukan adalah melalukan pembunuhan terhadap gubernur kota ataupun perwira militer. Tapi motif pembunuhan itu, seperti yang dicatat sejarah, justru membangun sekutu dengan kekuatan militer di perbatasan. Mereka membunuh Janah al-Dawla, penguasa Homs untuk menyenangkan Ridwan penguasa Aleppo, membunuh Mawdud –Emir Mosul– dalam rangka berteman dengan penguasa Damaskus.

Nama kelompok ini begitu terkenal hingga kini. Bahkan kosakata Inggris menyerap kata ini menjadi “assassin” yang berarti pembunuh. Beberapa video game konsol, film, novel juga ditengarai mengambil inspirasi dari kisah ini.

* * *

Istilah “teror” sendiri baru dipakai di masa modern terjadi di Paris. The Reign of Terror yang di Paris dikenal dengan istilah la Terreur, terjadi pada pasa 6 September 1793 hingga 28 Juli 1794. Periode ini terjadi pasca Revolusi Perancis sebagai akibat konflik dari dua kekuatan faksi politik, Girondins dan Mountain. Teror ini begitu mengerikan karena mengakibatkan kematian puluhan ribu jiwa. Sebanyak 16.594 orang dipenggal oleh guillotine (algojo dari Paris) dengan 2.639 dipenggal di kota Paris dan lebih dari 25 ribu orang diketahui meninggal di seluruh Perancis.

Lukisan Bataille Du Mans 1793 karya Jean Sorieul menggambarkan peristiwa yang disebut sejarah sebagai la Terreur atau Reign of Terror di Perancis.

Konflik politik pasca dipenggalnya King Louis XVI, Marie Antoinette, Girondins, Phillippe Egalite dan Madame Roland, tidak berhenti. Malah konflik internal di Perancis ini juga melibatkan bangsawan Perancis hingga Gereja Katolik Roma. Masyarakat menjadi frustasi karena kesamaan hak dan rakyat biasa belum juga dirasakan luas. Pada 25 Juni 1793, Jacques Raux (seorang pastur Gereja Katolik Roma yang dikenal radikal dan pemimpin kelompok bernama Enrage), mengeluarkan Manifesto of the Enrage, yang menggambarkan kalau setelah empat tahun Revolusi Perancis, tujuan revolusi ini belum dicapai oleh masyarakat luas.

Dalam tulisannya, Scripta et Acta yang tercantum dalam Exploring the French Revolution, French Revolution Documents 1792-95 yang diterbitkan di Berlin pada 1969 dan diedit oleh Walter M. Warkov, Jacques Roux menulis: “Kebebasan masih ilusi yang kosong ketika karena kekebalan hukum terhadap dirinya mampu membuat manusia lain menderita. Persamaan merupakan ilusi kosong ketika kaum kaya, lewat monopoli, memiliki keputusan memutuskan hidup dan mati kaumnya sendiri. Republik adalah ilusi kosong ketika kelompok kontra-revolusi memainkan peranan sehari-hari karena tiga perempat warga tak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sehari-hari dan tak tersisa lagi air mata.”

Teror di Perancis ini bermula di pertengahan April 1793 yang diusung Komite Keamanan Publik dan delegasi militan Jacobin. Delegasi Jacobin merupakan sebuah kelompok yang dulunya bernama Société des amis de la Constitution dan setelah 1792 berubah menjadi Société des Jacobins, amis de la liberté et de l’égalité (Society of Jacobin, Friends of Freedom and Equality). Klub Jacobin juga beranggotakan dua faksi parlemen terkuat saat itu, Mountain yang radikal dan Girondists yang dikenal lebih moderat. Girondist dipimpin oleh Jacques Pierre Brissot, termasuk juga Thomas Paine, salah seorang pendiri negara Amerika Serikat.

Konvensi Nasional, sebuah lembaga satu kamar yang menggantikan fungsi Lembaga Legislatif dan kemudian melahirkan Republik Perancis, meyakini bahwa Komite Keamanan Publik itu harus memerintah dengan kekuatan yang mendekati seorang diktator. Komite itu diisi orang-orang dan kekuatan politik yang baru untuk menggambarkan keinginan masyarakat.

Namun, kelompok pemberontak kontra-revolusi yang berbasis di Lyon, Brittany, Vendee, Nantes dan Marseille, melawan ini dengan memajukan ide-ide kerajaan. Sejarahwan Richard Cobb dalam karyanya A Mentality Shaped by Circumstance, in the French Revolution: Conflicting Interpretations (2002), menulis, “Kaum revolusi sendiri merasa hidup mereka seperti dalam sebuah pertempuran, sehingga beranggapan kalau teror dan kekuatan refresif-lah yang dapat menyelamatkan mereka dari musuh-musuh mereka.”

Kedua belah pihak kemudian hidup dalam kerangka saling takut antara satu sama lain, yang memunculkan gerakan teror antara keduanya. Pada 2 Juli 1793, kelompok Paris yang diinisiasi oleh Jacques Roux dan Hazques Hebert, mengambil alih Konvensi Nasional dan menyatakan mengambil alih politik dan adminitrasi pemerintahan, menurunkan harga roti dan pemilihan umum terbatas. Mendapat dukungan dari Tentara Nasional Perancis, mereka mendesak Konvensi untuk menangkap 29 pemimpin kelompok Girondist termasuk Jacques Pierre Brissot. Pada 13 Juli 1793, Jean Paul Marat –seorang pemimpin Jacobin dan jurnalis yang terkenal dengan retorika kekerasannya– dibunuh oleh Charlotte Corday (seorang wanita aristokrat yang jelita dan pengagum paham Girondin) di bak kamar mandinya dalam keadaan telanjang. Pembunuhan ini meningkatkan pamor politik Jacobin.

Jacobin pun naik daun dan semakin memberi pembenaran ke publik kalau kekerasan adalah sebuah jalan politik. Tercatat pada September 1793 ketika sebanyak 2.000 orang diangkut dari sel tahanan mereka dan kemudian dieksekusi atas nama “keadilan”. Walaupun faksi Girondis dan Jacobins secara umum sama-sama berhaluan kiri, namun Jacobin –dengan aliran Mountain— tercatat sejarah sebagai faksi yang paling brutal. Ketika Jacobin memerintah, Jacobin membuat struktur legal terhadap proses eksekusi puluhan ribu warga Perancis. Namun, sejarawan mencatat, lebih banyak orang yang mati yang tidak tercatat oleh sejarah. André Antoine Bernard yang dijuluki Bernard de Saintes, pengacara dan pendukung Revolusi Perancis, merupakan salah seorang anggota Jacobin yang dinilai bertanggung jawab atas terjadinya Reign of Terror di Perancis.

Teror-teror di atas yang dilakukan sebelum dan sesudah abad ke-19 dilakukan baik oleh kelompok maupun terorisme yang didukung negara. Itu belum lagi jalur terorisme yang dianut pemerintahan Joseph Stalin di Uni Soviet, Adolf Hitler dengan Nazi-Jerman hingga Bennito Mussolini dengan ideologi fasis-nya. Namun, pasca abad ke-19, terorisme menuju modus yang baru yaitu kelompok tertentu yang mengandalkan jalan kekerasan untuk mencapai tujuannya. Agama pun terseret-seret di awal-awal abad ke-20. (*)


Laporan: tim redaksi
Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber
Catatan: Laporan ini terdiri dari dua tulisan: Menelusur Jejak Terorisme di Dunia dan Terorisme, dan Terorisme, Sebuah Stigma yang Dibelokkan ke Dinding Islam.

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *