Press "Enter" to skip to content

Seorang pria mengangkat sebuah Al-Quran dalam sebuah demonstrasi yang dilakukan Asosiasi Muslim Inggris, UK Islamic Mission dan kelompok Islam Inggris lainnya yang bertema anti Islamophobia dan menentang publikasi kartun yang menghina Nabi Muhammad di Taman Trafalgar, London, 11 Februari 2006. (Foto: Matt Writtle/Press Association)

Kebencian Bertajuk Islamophobia

|

Kartun penghinaan nabi Muhammad oleh media Perancis, Charlie Hebdo, pada awal 2015 begitu mengejutkan. Namun, peristiwa itu dinilai hanyalah puncak gunung es dari gerakan Islamophobia yang melanda Eropa dan Amerika serta banyak negara lainnya. Pasca penyerbuan terhadap kantor tabloid itu, sejumlah rakyat Perancis, Jerman, Inggris, serta Amerika melakukan demonstrasi menentang aksi kekerasan tersebut sembari mendukung kebebasan berpendapat. Kelompok ISIS lalu muncul, menghentak dengan mengklaim diri sebagai kelompok Islam. Namun, kemunculannya justru memerlihatkan kengerian terhadap Islam. Seperti apa Islamophobia? Laporan khusus redaksi kabarhukum.com kali ini diracik menjadi tiga artikel: pertama, postingan ini sendiri, lalu Islamophobia, Rasisme dan Diskriminasi serta Islamophobia dan Ulah Media. Semoga ada manfaatnya.

* * *



Tujuh Januari 2015. Hanya seminggu setelah dentum tahun baru meledak di Paris, Perancis, tiga orang yang memegang Kalashnikov, senjata mesin otomatis buatan Rusia, menyerang kantor majalah Charlie Hebdo (CH). Penyerangan itu sangat singkat, namun hasilnya menggemparkan dunia. Sebanyak 12 orang tewas di tempat, termasuk sejumlah kartunis ternama di Perancis dan Pemimpin Redaksi-nya, Stephane Charbonnier. Saat itu, Charb sedang menggelar rapat redaksi.

Charbonnier diketahui sudah beberapa kali mendapat ancaman pembunuhan dan hidup dalam pengawalan ketat aparat keamanan. CH dikenal kerap menerbitkan kartun-kartun penghinaan terhadap Islam dan sosok sentral umat Islam, nabi Muhammad. Terbit sejak 1969, CH berhenti tahun 1981 sebelum terbit kembali 1992. Pada 2006, CH menjadi target utama kelompok-kelompok Islam radikal setelah mencetak ulang 12 kartun Nabi Muhammad yang sempat diterbitkan harian Denmark, Jyllands-Posten. Pada 2013, mereka menerbitkan komik tentang hidup nabi Muhammad. Redaksi berkilah, apa yang mereka lakukan adalah bagian dari kebebasan berekspresi.

Pemerintahan Perancis dan Eropa juga berpendapat sama soal kebebasan berekspresi ini. Dunia terbelah. Eropa dan Amerika membela CH, sementara negara-negara muslim mengutuk CH yang dinilai bagian dari Islamophobia ini.

Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional yang berbasis di Qatar yang diketuai ulama berpengaruh Yusuf al-Qaradawi, mengkritik bungkamnya dunia terhadap penghinaan agama yang disebutnya memalukan dan tak bisa dibenarkan. Lembaga ini mengingatkan konsekuensi berat jika terus menghina Islam, Alquran dan Rasulullah. “Tidak ada satu pun orang waras yang bersedia menerima hasutan fitnah yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi,” kata lembaga itu seperti dikutip AFP.

Namun Perancis bergeming. Mereka menerjunkan 15.000 tentaranya untuk mengamankan Paris plus tambahan anggaran 425 juta euro untuk meningkatkan perang melawan ekstremisme. Sejumlah pekerjaan baru diumumkan, 1.400 di kepolisian, terutama di intelijen, 60 ulama tambahan akan direkrut untuk memperkuat 182 orang yang sudah bekerja di penjara.

CH sendiri bukan majalah besar. Tirasnya hanya sekitar 30.000 eksemplar tiap pekan dan sempat berharap donasi untuk bisa terbit. Pasca penyerangan itu, mereka menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad. Tiga juta eksemplar majalah seharga 3 Euro (sekitar US$ 3,5) habis di hari pertama. Di internet, harganya mencapai US$ 1.000 per eksemplar.

Namun, aksi teror di Perancis setelah itu bukan itu saja dan bukan semata di Paris. London, Turki dan negara Eropa lainnya juga tak luput.

* * *

Secara “sederhana”, Islamophobia adalah terminologi yang mengedepankan prasangka kebencian dan ketakutan terhadap Islam, umat Islam dan kelompok etnis yang telah menerima Islam. Beberapa cendekiawan menggolongkannya sebagai bentuk rasisme. Beberapa pendapat mengatakan, Islamophobia meningkat tajam sejak serangan ke World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001 sementara yang lainnya mengasosasikannya dengan peningkatan jumlah muslim di negara-negara sekuler.

Menurut Oxford English Dictionary, Islamophobia berarti “Intensitas ketidaksukaan ataupun ketakutan terhadap Islam, khususnya dalam bentuk kekuatan politik; prasangka terhadap umat Islam”. Istilah ini masuk ke dalam ranah bahasa Inggris sekitar tahun 1923.

Mattias Gardell dalam tulisannya “Levande Historia: Islamofobi – definitioner och uttryck” memberi definisi Islamphobia sebagai “Masyarakat yang mereproduksi prasangka dan serangan terhadap Islam dan umat Islam, dalam bentuk tindakan dan serangan, mengasingkan dan diskriminatif terhadap orang-orang yang mereka anggap menerima ataupun beralih menjadi seorang Islam.”

Salah satu penggunaan awal yang disebut-sebut sebagai pengguna pertama istilah tersebut adalah pelukis Alphonse Étienne Dinet dan Sliman ben Ibrahim, intelektual berkebangsaan Aljazair, pada tahun 1918 dalam karya mereka tentang biografi Nabi Muhammad. Menulis dengan bahasa Perancis, mereka menggunakan istilah “islamophobie”.

Dahou Ezzerhouni dalam tulisannya di algerie-focus.com berjudul L’islamophobie, un racisme apparu avec les colonisations, telah mengutip beberapa penggunaan istilah ini di Perancis sejak tahun 1910, dan dari 1912 sampai 1918. Namun, istilah ini dinilai tidak memiliki arti yang sama seperti pada penggunaan saat ini, karena mereka menggambarkan ketakutan terhadap Islam oleh Muslim liberal dan feminis Muslim, bukan rasa takut atau ketidaksukaan dari non-Muslim.

Fernando Bravo Lopez dalam karyanya “Towards a Definition of Islamophobia: Approximations of the Early Twentieth Century” pada 2011, berpendapat bahwa penggunaan Dinet dan ibn Sliman tentang istilah itu sebagai kritik terhadap sikap terlalu memusuhi Islam oleh orientalis Belgia, Henri Lammens, yang dalam pekerjaannya mereka lihat sebagai “pseudo-ilmiah perang salib dengan harapan membawa Islam ke titik terbawah.”

Fernando juga mencatat bahwa definisi awal Islamophobia muncul dalam tesis PhD, Alain Quellien, birokrat kolonial Perancis pada 1906. Di situ, Alain menulis “Bagi beberapa kelompok, umat Islam adalah musuh alami dan tak akan pernah didamaikan dengan Kristen dan Eropa. Islam disebut sebagai sebuah negasi dari peradaban dan dipenuhi sikap barbarisme, itikad buruk dan kekejaman.”

“Bagi beberapa kelompok, umat Islam adalah musuh alami dan tak akan pernah didamaikan dengan Kristen dan Eropa. Islam disebut sebagai sebuah negasi dari peradaban dan dipenuhi sikap barbarisme, itikad buruk dan kekejaman.” (Alain Quellien)

* * *

Pada suatu simposium “Islamophobia dan Diskriminasi Agama” di tahun 2009, Robin Richardson, mantan direktur Runnymede Trust (lembaga yang didirikan Komisi Muslim Inggris dan Islamophobia, diketuai oleh Gordon Conway, Wakil Rektor Universitas Sussex) mengatakan, kerugian istilah Islamophobia cukup signifikan.

“Ia menyiratkan penyakit mental yang berat yang mempengaruhi hanya sebagian kecil dari orang-orang. Dia juga menyiratkan bahwa permusuhan terhadap umat Islam yang mengakibatkan mereka dipisahkan karena faktor-faktor seperti warna kulit, status imigran, ketakutan akan fundamentalisme, konflik politik atau ekonomi,” kata Robin.

Salman Rushdie dan buku karangannya “the Satanic Verses” yang menghujat Islam. (foto: AP)

Beberapa ulama menganggap Islamophobia sebagai bentuk rasisme. Sebuah artikel yang ditulis Mason Poynting dengan judul “The resistible rise of Islamophobia: Anti-Muslim racism in the UK and Australia before 11 September 2001“, mendefinisikan Islamofobia sebagai rasisme anti-Muslim dan kelanjutan dari anti-Asia dan anti-Arab. Paralel dengan itu, John Denham dalam artikelnya yang dimuat di majalah Time, menghubungkan antara Islamophobia modern dan antisemitisme dari tahun 1930-an.

Islamophobia juga menargetkan orang-orang yang memiliki nama Muslim, atau lihat yang berhubungan dengan Muslim . Menurut Alan Johnson dalam tulisannya berjudul “The Idea of ‘Islamophobia’” (2011) di World Affairs, Islamophobia kadang-kadang bisa tidak lebih dari xenophobia atau rasisme “dibungkus dalam istilah agama.”

The European Commission Against Racism and Intolerance (Komisi Eropa Melawan Rasisme dan Intoleransi/ECRI) pada 2006 mendefinisikan Islamophobia sebagai prasangka dan ketakutan terhadap Islam, Muslim dan hal-hal yang berkaitan dengan mereka.

Tapi istilah Islamophobia memang tak mengenakkan bagi beberapa kalangan tertentu. Dalam kontroversi kartun Nabi Muhammad yang dibuat Jyllands-Posten, 12 penulis, termasuk Salman Rushdie penulis “Ayat-ayat Setan“, mereka menandatangani manifesto berjudul “Bersama menghadapi totalitarianisme baru”. Pernyataan itu dilakukan di koran Perancis, CH, pada Maret 2006. Dilansir dari BBC, mereka menentang istilah Islamophobia. “Kami menolak untuk meninggalkan semangat kritis kita karena takut dituduh Islamophobia, sebuah konsep celaka yang mengaburkan kritik terhadap Islam sebagai agama dan stigmatisasi terhadap mereka yang percaya kepadanya,” kata Salman Rusdhie dan kawan-kawan.

Jangankan terhadap Islam dan umatnya, terhadap istilahnya saja kelompok ini sudah benci. (*)


Laporan: Tim Redaksi
Sumber: Dirangkum dari beberapa sumber
Catatan: Tulisan pertama bertajuk Kebencian Bertajuk Islamophobia , tulisan kedua Kelindan Islamophobia, Rasisme dan Diskriminasi; dan ketiga berjudul Islamophobia dan Ulah Media.


 

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *