Press "Enter" to skip to content

Chairil Anwar dan sebuah grafiti. (foto: HB Jassin/wikipedia/solo.tribunnews.com)

Sedikit tentang Chairil Anwar

|

Penyair Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Juli 1922. Dia berdarah Minangkabau, ayahnya Toeloes dan Saleha berasal dari Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Hans Bague (HB) Jassin, seorang yang dijuluki Paus Sastra Indonesia, menobatkannya sebagai Pelopor Angkatan ’45 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin.

Sebelum ke Jakarta, Chairil dibesarkan di Medan. Dia disebutkan tinggal di Jalan Brigjend Katamso Medan, sebuah kawasan yang sempat dikatakan sentra masyarakat Minangkabau di Kota Medan waktu dulu. Di rumah itu, juga sempat berdiam Sutan Sjahrir, salah seorang kerabatnya. Pada 1940, dia baru pindah ke Jakarta.



Chairil mulai terkenal setelah puisinya yang berjudul Nisan dimuat pada 1942. Puisi itu diinspirasi oleh kematian nenek Chairil yang begitu disayanginya. Saat itu ia baru berusia 20 tahun.

Dia menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946 dan dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa. Pernikahan ini disebutkan berakhir pada akhir tahun 1948.

Chairil bukanlah seorang yang sehat secara fisik. Dia adalah seorang penderita TBC. HB Jassin menggambarkan sosoknya sebagai orang yang “kurus, pucat dan seperti tak terurus.”¬†Andries Teeuw dalam Sastra Baru Indonesia (1980), melukiskan, mata Anwar merah dan agak liar tetapi kelihatan selalu seperti sedang berpikir.

Dia meninggal pada 28 April 1949, sore hari. HB Jassin menuliskan soal sakit dan kisah kematiannya dalam Chairil Anwar: Pelopor Angkatan ’45 (2013). Menurutnya, menurut catatan rumah sakit, ia dirawat karena tifus. Meskipun demikian, ia sebenarnya sudah lama menderita penyakit paru-paru dan infeksi yang menyebabkan dirinya makin lemah, sehingga timbullah penyakit usus yang membawa kematian dirinya – yakni ususnya pecah. Tapi, menjelang akhir hayatnya ia menggigau karena tinggi panas badannya, dan di saat dia insaf akan dirinya dia mengucap, “Tuhanku, Tuhanku…” Dia meninggal pada pukul setengah tiga sore 28 April 1949, dan dikuburkan keesokan harinya. Chairil diangkut dari kamar mayat RSCM ke pemakaman Karet Bivak oleh banyak pemuda dan orang-orang Republikan terkemuka.

Selama hidupnya, Chairil telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi yang kebanyakan tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisinya yang paling terkenal adalah Aku dan Krawang Bekasi. Sedangkan puisi terakhirnya berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh. (*)


sumber: wikipedia


 

Komentar Anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *