Press "Enter" to skip to content

Jenderal Abdul Haris Nasution

Abdul Haris Nasution, Gerilya Menyelamatkan Indonesia

|

September adalah pengingat bagi sesosok nama, Jenderal Besar Abdul Haris (AH) Nasution. Figur yang berjalin dengan nama besar dalam sejarah Indonesia: Sukarno, Hatta, Sudirman dan Soeharto. Toh, dia bukan hanya itu. Karena itu, tulisan ini akan terasa begitu singkat melukiskan sosok Nasution. 


PenulisNirwansyah Putra
(Diselesaikan Rabu, 26 September 2018)


Peristiwa Gerakan 30 September (G-30S)/Partai Komunis Indonesia (PKI), saat Nasution lolos dari penculikan dan pembunuhan keji, memang susah dilupakan. Menjadi target utama, Nasution jelas bukan orang “kecil”. Namun, membingkai Nasution hanya dari peristiwa tersebut dan perseteruannya dengan PKI, merupakan kesilapan besar. Jangan-jangan, hal itu malah sebuah reka untuk membonsai dirinya.

Dia adalah wakil Panglima Besar Jenderal Sudirman, junior Jenderal Oerip Sumohardjo, menata internal dan politik TNI pasca kelahirannya. Dengan Sukarno, Proklamator dan Presiden I Indonesia: dia pernah dipecat dan juga diangkat dalam posisi paling tinggi dalam militer dan kekuasaan. Nasution adalah juga si pembentang karpet merah kekuasaan tunggal Sukarno sejak Dekrit 1959, namun juga pencabut mandat Sukarno sebagai Presiden pada 1967. Dengan Soeharto, Presiden Indonesia selama 32 tahun: Nasutio-lah yang mengangkat Soeharto menjadi Presiden, lalu dihempas Soeharto, namun kemudian digelari Jenderal Besar oleh Soeharto dan TNI sebelum wafat pada tahun 2000 tanggal 5 bulan September.

Ed Masters, mantan Duta Besar AS di Indonesia (1978-1982), mengatakan, Nasution mungkin saja menapak ke puncak tertinggi  kekuasaan di Indonesia dengan memanfaatkan simpati kepadanya (terutama karena peristiwa G-30–S/PKI), sikap anti komunis dan jasanya saat memimpin perang gerilya. “Tapi dia tidak melakukannya. Sejarah Indonesia bisa berbeda jika Jenderal Nasution menjadi Presiden,” kata Masters kepada New York Times edisi 7 September 2000 mengomentari wafatnya Nasution. “Dia adalah Hamlet-nya Indonesia.”

Seorang Hamlet?

* * *



Bila pendiri negara diukur hanya dari tokoh yang mengikuti Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Nasution bukanlah “senior”. Dia lahir 3 Desember 1918 di Hutapungkut, Kota Nopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, daerah yang berbatasan dengan Sumatera barat.  Itu berarti 17 tahun setelah Presiden Sukarno lahir pada 1901. Namun, dia hanya berbeda umur 2 tahun dengan Panglima Besar Jenderal Sudirman yang lahir pada 1916.

Ayahnya, H Abdul Halim Nasution, menginginkan Nasution muda untuk menjadi guru agama. Nasution lantas disekolahkan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat dan melanjut ke Bandung, Jawa Barat. Menurut Tim Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT) dalam buku Jenderal Tanpa Pasukan, Politisi Tanpa Partai: Perjalanan Hidup A.H. Nasution (1998), Nasution sempat pula menjadi guru sebentar di Tanjung Praja, Palembang, pada 1939.

Nasution bersama ibunya (berkerudung) dengan istri dan adik-adiknya.
[foto: repro buku AH Nasution Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5]
Nasution lalu masuk sekolah militer milik Belanda, Koninklijke Militaire Academie (KMA), Bandung, melalui program Corps Opleiding tot Reserve Officieren (CORO). Pada November 1940, Nasution masuk Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL). Dia lalu diangkat sebagai Vaandrig (Pembantu Letnan) pada kesatuan Infanteri KNIL pada 1941. Setahun berikutnya, Nasution mendapatkan pengalaman tempur pertama saat melawan Jepang.

Seperti diketahui, militer Indonesia di awal kelahirannya, merupakan gabungan dari perwira lulusan KNIL dan Pembela Tanah Air (PETA) bikinan Jepang, di samping laskar-laskar bikinan kelompok masyarakat secara mandiri. KNIL merupakan sayap militer Belanda yang khusus bertugas di Hindia Belanda. Background lulusan ini nantinya mempunyai faktor penting dalam dinamika militer di Indonesia, baik dari segi politik maupun dinamika internal jabatan. Peran penting Panglima Besar Sudirman (lulusan PETA) dan Kepala Staf-nya, Oerip Sumohardjo (perwira senior dengan pangkat paling tinggi di era KNIL), sangat penting menjaga keseimbangan di tubuh militer.

Serdadu pribumi dan Eropa yang tergabung di dalam KNIL. Foto di tahun 1942.
(foto: NIOD/nons.nl)

Pasca proklamasi, Nasution (bersama Tahi Bonar/TB Simatupang dan alumni militer Bandung lainnya) bergabung dengan TKR (nama TNI di awal pembentukan 5 Oktober 1945 setelah sebelumnya bernama Badan Keamanan Rakyat/BKR). Nasution lalu menjabat Kepala Staf Komandemen TKR Jawa Barat, lalu menjadi Panglima Divisi TKR III Priangan. Pada Mei 1946, Nasution diangkat menjadi Komandan Wilayah Divisi Siliwangi, divisi baru hasil perubahan Komandamen Jawa Barat. Pengangkatan Nasution di Divisi Siliwangi menggantikan Didi Kartasasmita, seniornya.

(bersambung…)

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *