Press "Enter" to skip to content

Di antara manuskrip yang disebutkan berasal dari era Dinasti Abbasiyah (foto: wikipedia0

Bayt al-Hikmah: Terjemah, Revisi, Lalu Inovasi

|

Artikel sebelumnya menyebutkan kalau penerjemah mempunyai kontribusi yang penting di Bayt al-Hikmah. Gerakan penerjemahan dimulai dengan menerjemahkan karya Aristoteles, Topics, salah satu dari enam edisi Organon yang berisi tentang logika. Pada saat al-Ma’mun, penerjemah telah bergerak di luar teks astrologi Yunani, dan karya-karya dari Yunani sudah dalam terjemahan versi ketiga mereka. Penerjemahan itu juga meliputi karya ilmuwan terkenal lainnya: Pythagoras, Plato, Aristoteles, Hippocrates, Euclid, Plotinus, Galen, Sushruta , Charaka, Aryabhata dan Brahmagupta.



Dalam banyak kasus, nama karya-karya itu juga mengalami perubahan. Misalnya saja judul naskah Almagest karya Ptolemy, merupakan modifikasi bahasa Arab dari judul yang diperkirakan semula bertajuk Megale Sintaks.

Patung al-Khwarizmi di depan Fakultas Matematika Amirkabir Universitas Teknologi Teheran, Iran. Al-Khawarizmi merupakan salah satu intelektual ternama di Bayt al-Hikmah, Baghdad. (foto: wikipedia)

Lebih jauh dari itu, penemuan-penemuan baru membuat karya-karya itu direvisi dan dikoreksi. Misalnya saja matematikawan muslim terkenal, Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi (780-850) yang bekerja di Bayt al-Hikmah dan mengembangkan aljabar dan algoritma. Khawarizmi juga berjasa mengenalkan sistem desimal Hindu ke dunia Arab, dan ke Eropa.

Bayt al-Hikmah juga menghasilkan Abu Yusuf Yaʻqub ibn ʼIsḥaq as-Sabbaḥ al-Kindi (801-873) atau sering disebut al-Kindi. Al-Kindi sering dijuluki Bapak Filsuf Arab. Dia juga berjasa mengembangkan model matematika kriptanalisis. Orang sering menyebut al-Kindi sebagai seorang polymath, pakar di banyak bidang karena kemampuannya di bidang matematika, kimia, biologi, fisika, optik, filsafat, teologi, obat-obatan, metafisik, hingga musik.

Nama lain misalnya Mohammad Musa (803–873) dan keempat saudaranya yang dijuluki Banu Musa. Mereka merupakan orang pertama dalam sejarah yang menyatakan universalitas hukum-hukum fisika, sesuatu yang di masa kini menjadi pencarian utama kaum fisikawan-teoritis. Banu Musa juga berhasil menerbitkan buku berisi 100 mesin-mesin otomatis, membuat dan menggunakannya. Mereka juga berhasil menyelesaikan konsep pengukuran pesawat dan angka bulat, sebuah fondasi geometri.

Pada abad ke-10, Ibn al-Haytham (Alhazen) melakukan beberapa percobaan fisik, terutama di optik, yang banyak dipakai oleh Newton dan terus disebut-sebut hingga kini.

Dalam ranah pengobatan, Hunayn ibn Ishaq (809-873) menulis sebuah risalah penting optalmologi. Sarjana lain juga menulis tentang cacar, infeksi dan operasi. Dalam tulisannya All the World’s Knowledge (2011), Wendy Moore, seorang sejarawan dan jurnalis Inggris, menyebutkan bahwa karya-karya dari Bayt al-Hikmah, nantinya akan menjadi buku teks standar kedokteran di masa Renaissance Eropa. Selama abad ke-9, Kota Baghdad sendiri telah memiliki lebih dari 800 dokter dan penemuan-penemuan yang menakjubkan di bidang medis dan biologi. Ibnu Sina yang menerbitkan al-Qanun fi at-Tibb atau Hukum Perobatan, hanyalah salah satu di antaranya. Dia juga seorang polymath yang namanya sangat harum di dunia hingga kini.

Khalifah al-Ma’mun juga memimpin untuk pertama kalinya proyek penelitian besar yang melibatkan kelompok besar cendekiawan dalam membangun observatorium astronomi pertama di Baghdad pada 828.

Percobaan optik oleh Ibn al-Haytham (Alhazen). Al-Haytam termasuk cendekiawan ternama di Bayt al-Hikmah. (foto: ibnalhaytham.com)

Hal ini utuk membuktikan apa yang telah diamati oleh Ptolemy. Data yang diberikan oleh Ptolemy diperiksa dengan cermat dan direvisi oleh para pakar di bidang geografi, matematika dan astronomi. Al-Mamun juga menyelenggarakan penelitian tentang keliling Bumi dan menugaskan proyek geografis yang akan menghasilkan salah satu peta dunia dan waktu yang paling rinci.

Konstruksi observatorium yang dikomandoi oleh astronom senior, Yahya bin Abi Mansur dan Sanad bin Ali al-AlYahudi, ditapak di al-Shammasiyya, Baghdad, dan disebut Maumtahan Observatory. Setelah mengamati Matahari, Bulan dan planet-planet, sebuah observatorium kedua dibangun lagi di Gunung Qasioun, dekat Damaskus. Hasil pengamatan ini disusun dalam sebuah karya yang dikenal sebagai al-Zij al-Mumtahan, yang diterjemahkan sebagai “Tables The Verified”.

Hasil penemuan Al-Battani, Ibn Rushdi, Nasiruddin Tusi, dan lain-lain di bidang astronomi telah jauh mendahului penelitian Heliosentrisme-nya Copernicus.

Karya-karya seni sastra bernilai tinggi pun bermunculan. Majnun Layla, yang merupakan sebuah syair yang tercipta di abad ke-11, sebuah kisah romantis yang jauh lebih dulu terkenal sebelum kisah Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Jangan lupakan juga Kisah 1001 Malam, yang berisi kisah terkenal antara lain Ali Baba, Sinbad, Aladin dan lain-lain yang seluruhnya bercerita mengenai dongeng-dongeng yang cerita di dalamnya terjadi di kurun masa pemerintahan Dinasti Abbasiah. Hingga kini, siapa pula yang tak pernah mendengar cerita Abu Nuwas? (*)


penulisnirwansyah putra
sumberwikipedia dan sumber-sumber lain


Tulisan ini terdiri dari tiga artikel yaitu: Bayt al-Hikmah, Cahaya Peradaban DuniaBayt al-Hikmah: Terjemah, Revisi, Lalu Inovasidan Bayt al-Hikmah Baghdad pun Hancur…


 

2 komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *