Dua orang teman saya berdebat serius betul. Padahal, masalahnya sepele: seksi.

“Seksi itu nggak mesti telanjang,” kata Susilo.
Wati menangkis, “Walah, mbok ya ndak usah muna’. Semua pria kan sama saja, seksi ya, telanjang. Dasar tukang eksploitisir!”

“Wah, wah, jangan salah paham dulu, Mbak Wati. Kalo gitu sama aja lihat binatang. Manusia itu ‘kan butuh perjuangan. Kalo belum apa-apa dah telanjang, yah … ‘kan sudah habis perkara. Prosesnya itu, lho, yang buat deg-degan.”

“Proses opo! Toh, tujuannya telanjang juga, ‘kan. Kalo emang itu maunya ya terus-terang saja, ndak usah ragu-ragu,” bibir Wati langsung menyong.

“Mbak Wati ini dibilangin kok terus sewot. Justru, perempuan itu kelihatan lebih seksi, kalau dadanya hanya terbuka sedikit. Ato kalo roknya tersingkap…duh, itu saya bisa langsung syeerrrr.”

“Waduh, itu sih berarti kunaf alias kuat nafsu. Belum apa-apa dah langsung syahwat. Katanya perlu proses…,” cibir Wati. Susilo merah padam diledek Wati. Ia langsung berdiri.

“Seksi itu adalah yang bisa menumbuhkan hasrat. Apapun dia. Kalo dia jelek, tapi bisa buat deg-degan, ya, itu seksi namanya.”

“Hehehe… berarti kalau kambing dibedaki terus nafsu, kambing seksi juga dong…” kata Wati sambil mengerling. Susilo jadi salah tingkah. Ia diam saja. Wati langsung nyerocos.

“Bagi wanita, seksi itu gampang saja. Seganteng apa dirinya, selembut apa pun nyanyian pria itu, kalau dia ndak tegas, itu namanya banci. Pria itu mesti gagah, garang dan bisa ngeloni, gitu lho. Kalau nggak, jangan-jangan malah dia homo lagi, hahaha…,” Wati tergelak hingga dadanya berguncang-guncang.

Saya yang mendengar debat kusir itu, langsung ngacir. Ups, hampir saja Marlboro saya ketinggalan. Dua-duanya nggak seksi sih… (*)